Senior Master Agen

Senior Master Agen Link Alternatif SBOBET

Friday, February 17, 2017

Sejarah dan Fakta Liga Champions UEFA

Liga Champions Eropa atau dikenal juga dengan Liga Champions UEFA adalah kejuaraan antarklub sepak bola tahunan antara klub sepak bola-klub sepak bola tersukses di Eropa dan sering dianggap sebagai trofi tingkat klub yang paling bergengsi dan prestisius di Eropa.

Salam the Art of Soccer!

Bro dan Sis, berkaitan dengan berlangsungnya putaran 16 besar Piala Champions Eropa, tidak ada salahnya Drive Ball mengangkat topik terkait, kali ini tentang sejarah dan fakta-fakta pada Liga Champions UEFA. Silahkan baca terus artikel berikut.


Kejuaraan ini pada awalnya dimulai pada musim 1955/1956 dengan menggunakan sistem gugur dua leg, yaitu setiap klub bertanding dua kali, satu kandang satu tandang dan klub dengan skor rata-rata tertinggi maju ke babak berikutnya. Hanya klub-klub juara liga di masing-masing negara ditambah dengan pemegang juara pada saat itu yang berhak ikut ajang kompetisi bergengsi ini. Kejuaraan ini dicetuskan oleh salah satu majalah olah raga Perancis. Pada awalnya kejuaraan memperebutkan piala bernama Piala Juara Klub Eropa atau European Champion Clubs' Cup yang biasa disingkat menjadi Piala Eropa (European Cup). Pada ajang ini memperebutkan trofi berbentuk piala yang diberi julukan "The Big Ears" dimana piala yang diperebutkan sekarang adalah edisi ke-6 buatan Stadellman.

Format dan Nama Baru

Pada musim tahun 1992/1993 format dan nama kejuaraan ini diganti dari Piala Champion menjadi Liga Champions. Mulai saat itu kejuaraan mempunyai tiga babak kualifikasi, satu babak kompetisi grup dimana tim-tim bermain dalam bentuk tandang kandang seperti kompetisi reguler, empat babak final dengan sisitem gugur dilangsungkan dengan dua leg, kecuali pertandingan final yang merupakan pertandingan tunggal yang diselenggarakan di sebuah tempat yang telah ditentukan oleh UEFA.

Kualifikasi untuk Liga Champions ditentukan oleh posisi tim-tim di liga domestik dan melalui sistem kuota dimana negara-negara yang mempunyai liga domestik yang kuat diberikan lebih banyak kuota. Klub yang bermain di liga domestik yang lebih kuat juga mulai ikut pada babak yang lebih akhir. Contoh, tiga liga terkuat, menurut peringkat UEFA akan melihat juara dan runner upnya langsung masuk ke babak fase grup dan peringkat tiga dan empat masuk pada babak kualifikasi ketiga. Ada pengecualian pada peraturan ini yaitu juara bertahan Liga Champions lolos secara otomatis ke babak grup tanpa tergantung posisi akhirnya di liga domestik. Oleh karena itu bagi klub-klub yang ingin bertarung di ajang paling bergengsi di Eropa ini mereka berusaha berjuang habis-habisan untuk menempati posisi teratas di liga domestik.

Klub dengan Gelar Terbanyak

Tercatat dalam sejarah klub pemegang gelar terbanyak dalam ajang Piala Champions Eropa adalah Real Madrid yaitu sebanyak 11 kali dan menjadi terbanyak di seluruh Eropa. Klub-klub berikutnya adalah AC Milan (7 kali juara), Liverpool, Bayern Munchen dan Barcelona (5 kali juara), Ajax Amsterdam (4 kali juara), Manchester United dan Internazionale Milan (3 kali juara). Khusus bagi tim yang pernah juara Liga Champions minimal 5 kali tidak berturut-turut atau 3 kali berturut-turut di lengan baju kiri akan terdapat logo Liga Champions dan tertulis jumlah piala yang dikoleksi. Seperti misalnya Ajax klub yang berasal dari Amsterdam ini di lengan baju kiri terdapat logo Liga Champions disertai dengan jumlah piala yang diperoleh, karena mereka juara pada tahun 1971, 1972 dan 1973. Adapun tim-tim lain yang mengenakan logo Piala Champions di lengan yaitu Real Madrid, AC Milan, Liverpool dan Barcelona dan Bayern Munchen.


Dalam 19 musim terakhir hanya ada satu tim yang berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions (format dan namanya masih Piala Champiuons) selama 2 musim berturut-turut yaitu AC Milan yang saat itu berpredikat sebagai the Dream Team. Namun setelah formatnya diubah menjadi Liga Champions, belum ada satu tim pun yang berhasil mempertahankan gelar juaranya. Sebagai catatan, Milan dan Juventus adalah tim dalam 15 musim terakhir yang berhasil meraih final secara berturut-turut sebanyak 3 kali yaitu Milan (1993, 1994 juara dan 1995) dan Juventus (1996 juara, 1997 dan 1998).

Lagu Tema Liga Champions UEFA

Sejak format dan namanya menjadi Liga Champions pada tahun 1992, UEFA meminta kepada Tony Britten untuk membuat sebuah lagu tema untuk Liga Champions UEFA dan dia kemudian mengadaptasi lagu George Frideric Handel yang berjudul Zadok the Priest. Lagu tersebut kemudian dibawakan oleh Chorus of the Academy of St. Martin in the Fields dengan iringan musik oleh Royal Philharmonic Orchestra dimana lirik lagu ini menggunakan tiga bahasa resmi UEFA yaitu Inggris, Perancis dan Jerman. Chorus lagu ini dimainkan sebelum pertandingan Liga Champions Eropa dan juga sebelum dan sesudah setiap siaran pertandingan di televisi.

Pertandingan-pertandingan Liga Champions UEFA dapat diklik di sini

Sejak kompetisi ini dimulai, sudah ada enam pertandingan final satu negara yaitu Spanyol pada tahun 2000, 2014, 2016, Italia pada tahun 2003, Inggris pada tahun 2008 dan Jerman pada tahun 2013. Pertandingan final pada tahun 2014 merupakan pertandingan final pertama yang diikuti oleh dua tim yang berasal dari kota yang sama yaitu Madrid dan final tersebut terulang kembali pada tahun 2016.


Klub-klub yang melaju ke babak final kebanyakan dari negara-negara yang kompetisi domestiknya sudah kuat seperti Spanyol (La Liga), Italia (Serie A), Inggris (Premier League), Jerman (Bundesliga) dan Belanda (Eradivisie). Adapun distribusi juara Liga Champions UEFA berdasarkan negara dapat dilihat pada tabel berikut ini :

No Negara Juara Juara Kedua
1 Spanyol 16 10
2 Italia 12 15
3 Inggris 12 7
4 Jerman 7 10
5 Belanda 6 2
6 Portugal 4 5
7 Perancis 1 5
8 Skotlandia 1 1
9 Rumania 1 1
10 Yugoslavia 1 1
11 Yunani 0 1
12 Belgia 0 1
13 Swadia 0 1

Well, Bro dan Sis demikianlah artikel tentang Sejarah dan Fakta Liga Champions UEFA. Bagi para penggemar olah raga sepak bola terutama penggemar fanatik klub-klub raksasa Eropa tentu sangat antusias menunggu dan menyaksikan pertandingan di Liga Champions UEFA ini baik secara langsung maupun melalui televisi dan internet. Sportivitas dan fair play adalah sesuatu hal yang harus dijunjung tinggi oleh para pemain dalam mengikuti ajang yang penuh gengsi dan prestise ini. Sebagai akhir kata, Drive Ball mengucapkan selamat menyaksikan pertandingannya.

Salam the Art of Soccer!

Tuesday, February 7, 2017

Alex Ferguson, Manajer Terhebat Sepanjang Masa

Ferguson mampu mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton 1000 orang di pertandingan kandangnya menjadi juara Liga Skotlandia pada musim kompetisi 1976/1977.



Salam The Art of Soccer!

Manajer sepak bola adalah posisi jabatan di suatu klub sepak bola dimana tugas utamanya adalah mempersiapkan segala kebutuhan klub. Tugas manajer berbeda-beda bergantung kepada tradisi sepak bola di negara tertentu. Setiap liga sepak bola di berbagai negara mempunyai tugas bermacam-macam untuk seorang manajer. Sebagai contoh di Inggris jabatan manajer dijadikan satu dengan jabatan pelatih. Itu berarti di sana seorang pelatih harus merangkap 2 jabatan sekaligus.

Well, Bro dan Sis, kali ini Drive Ball akan mengangkat topik tentang profil seorang manajer hebat yang menangani beberapa klub di Eropa. Manajer atau pelatih yang hebat dan berpengalaman akan sangat diperlukan oleh sebuah tim atau klub sepak bola untuk mendongkrak prestasi. Kadangkala banyak manajer yang mengalami kegagalan dalam melatih sebuah klub yang kemudian berujung pada pemecatan. Akan tetapi banyak pula manajer yang meraih prestasi dengan mempersembahkan berbagai trofi kejuaraan bagi tim yang ditanganinya bahkan namanya dikenang terus sepanjang waktu. Oleh karena itu Drive Ball telah memilih seorang manajer mumpuni yang telah begitu banyak mengukir prestasi untuk kita bahas. Dia adalah Sir Alex Ferguson.

Karir Kepelatihan

1. St. Mirren (1974 - 1978)

Juara Liga Skotlandia

Pria asal Skotlandia bernama lengkap Alexander Chapman Ferguson yang lahir di Glasgow pada tanggal 31 Desember 1941 ini adalah seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola yang pernah menangani Manchester United. Dianggap sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah, ia telah memenangkan lebih banyak trofi daripada pelatih manapun sepanjang sejarah sepak bola Inggris.

Awal karir kepelatihan pria yang lebih akrab disapa Fergie ini dimulai pada tahun 1974 di sebuah klub kecil di Scotlandia bernama East Stirlingshire, dimana karirnya di sini bertahan tidak lama karena pada bulan Oktober 1974 ia menerima pinangan St Mirren untuk menjadi manajer. Karirnya di sini berlangsung gemilang selama 4 musim menangani klub tersebut (1974 - 1978) Ferguson mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton oleh 1000 orang dalam pertandingan kandangnya itu menjadi juara Liga Scotlandia pada musim 1977. Namun ironis, keberhasilan klub menjuarai Liga malah berujung pemecatan terhadap dirinya karena ia berselisih paham dengan stafnya. Presiden klub waktu itu Willie Todd menganggap Alex tidak mempunyai kemampuan manajerial yang baik.

2. Aberdeen (1978 - 1986)

The Furious Fergie

Antara tahun 1978 - 1986 Ferguson menjadi manajer Aberdeen dimana ia diharapkan untuk mengembalikan masa kejayaan Aberdeen yang menjuarai Liga Scotlandia terakhir kali pada tahun 1955. Namun karena usia Ferguson yang masih 36 tahun saat itu tetap saja kesulitan meraih respek dari para pemain yang beberapa di antaranya lebih tua daripada manajer mereka sendiri. Namun walaupun demikian Ferguson telah mampu menorehkan prestasi karena ia berhasil membawa Aberdeen ke semi final Piala Skotlandia dan Piala Skotlandia. Kemudian ia juga mampu memoles performa Aberdeen hingga akhirnya mereka menjuarai Liga Skotlandia pada musim 1978/1980. Hal ini membuat Ferguson mendapatkan kepercayaan dan respek dari para pemain dan direktur klub. Para pemain menjulukinya Furious Fergie atau Fergie yang galak.

Berkat kedisiplinan yang diterapkan Ferguson, Aberdeen semakin berjaya dan sukses dalam musim-musim berikutnya, diantaranya meraih Piala Skotlandia pada musim 1981/1982 yang mengantarkan mereka ke ajang Eropa yaitu Piala Winners. Keberhasilan Ferguson dalam menangani Aberdeen mendapat sorotan media tatkala mereka secara mengejutkan mampu menyingkirkan Bayern Munchen dan juga akhirnya mengalahkan raksasa Spanyol Real Madrid 2 - 1 di final dan membawa pulang Piala Winners pada tanggal 11 Mei 1983.

Dalam kompetisi domestik Aberdeen berhasil mempertahankan mahkota juara Piala Skotlandia dengan mengalahkan Rangers di final dengan skor 1 - 0. Pada musim berikutnya lagi-lagi berkat tangan dingin Ferguson, Aberdeen kembali meraih gelar juara Piala Skotlandia untuk ke tiga kalinya berturut-turut dan meraih gelar juara Liga Skotlandia. Hal ini membuat Ferguson dianugerahi gelar OBE pada tahun 1984. Pada musim 1984/1985 Aberdeen berhasil mempertahankan gelar juara Liga Slotlandia namun pada musim berikutnya mereka gagal di liga (posisi 4) tetapi mampu menjadi juara Piala Liga dan Piala Skotlandia. Pada musim yang sama Ferguson adalah salah satu staf pelatih dalam tim nasional Skotlandia ketika menghadapi ajang Piala Dunia 1986.

3. Manchester United (1986 - 2013)

Debut Pertama, Kalah!

Pada bulan November 1986 Ferguson menerima pinangan Manchester United, setelah ia menolak jabatan menjadi salah satu direktur di Aberdeen karena jasa-jasanya. Ketika bergabung dengan United ia mendapatkan beberapa pemain ada yang bermasalah dengan alkohol dimana mereka mempunyai hobi minum minuman keras yang berpengaruh terhadap kebugaran pemain itu sendiri. Secara perlahan tapi pasti Ferguson berusaha menghilangkan kebiasaan buruk anak asuhannya itu dengan menanamkan disiplin yang ketat yang akhirnya masih berlaku sampai saat ini di Manchester United.

Ferguson melakukan pertandingan debutnya di Manchester United berakhir dengan kekalahan 0 - 2 ketika melawan Oxford United diikuti dengan seri 0 - 0 pada pertandingan berikutnya melawan Norwich City. Kemenangan baru diperoleh Ferguson saat melawan Queens Park Ranger di Old Trafford dengan skor 1 - 0 untuk United. Ini adalah kemenangan pertama yang diraih Ferguson selama memulai karirnya bersama Manchester United. Kemenangan istimewa berikutnya adalah ketika berhasil menaklukkan rival abadinya yaitu Liverpool di kandangnya sendiri dengan dimana sebelumnya Ferguson melalui media mengatakan bahwa ia akan mengubah dominasi di Liga Inggris yang selama ini dipegang oleh Liverpool.

Dari Posisi 21 ke Posisi 11

Pada musim pertamanya di Manchester United, Ferguson hanya mampu mengantarkan United berada di posisi 11 Liga Inggris yang sebelumnya terpuruk di posisi 21. Menghadapi musim kompetisi berikutnya Ferguson mulai berbenah kembali di tubuh United dengan mendatangkan beberapa pemain baru diantaranya Sreve Bruce, Brian McClair dan Jim Leighton. Dengan tambahan amunisi dan tentunya usaha yang keras dari manajer yang bertangan dingin ini, Manchester United berhasil menduduki posisi 2 di bawah "The Reds" Liverpool. Namun sayang pada musim 1988/1989 United kembali merosot turun berada di posisi 11.

Trofi Pertama

Pada musim 1989/1990 beberapa pemain baru kembali didatangkan Ferguson seperti Paul Ince, Neil Webb dan Gary Pallister. Ketika kompetisi mulai bergulir, United mampu mencatat kemenangan melawan juara bertahan saat itu Arsenal dengan skor 4 - 1, namun dikalahkan oleh tim sekota yaitu Manchester City dengan skor memalukan 5 - 1. Para penggemar mulai menuntut mundur Ferguson dengan banyaknya spanduk itu di Old Trafford. Ditambah lagi kondisi United sebagai salah satu calon tim yang akan mengalami degradasi dari Liga Inggris. Ini adalah masa tersuram bagi Ferguson selama meniti karir sebagai manajer sepak bola. Walaupun tuntutan untuk mundur dari penggemar terus berlangsung tetapi dewan direktur klub tetap mempercayai Ferguson sebagai manajer, dimana akhirnya Ferguson menebus kepercayaan itu dengan kemenangan melawan Crystal Palace 1 - 0 di final Piala FA. Trofi ini merupakan trofi pertama Ferguson selama menangani United dan sekaligus trofi penyelamat karirnya di Manchester United.

Puncak Klasemen dan Juara Liga Inggris

Raihan trofi pertama untuk Ferguson membuat para fans berharap banyak pada musim berikutnya. Pada musim 1990/1991 Fergie mendatangkan kiper asal Denmark yaitu Peter Schmeichel dan Andrei Kanchelkis untuk mengisi posisi sayap kanan. Dengan kondisi tim yang bongkar pasang pemain tidak serta merta memperoleh hasil yang memuaskan. Terbukti, walaupun sempat menang melawan Arsenal 6 - 2 di Highbury, namun sempat dikalahkan Everton di Old Traford 0 - 2. Kemudian kemenangan lagi terus kekalahan lagi. Performa inkonsistensi mereka di Liga Inggris tidak berpengaruh pada penampilan di ajang Eropa seperti Piala Winners, Piala Liga dan Piala Super Eropa dimana United mampu melaju ke babak final Piala Winners dengan mengalahkan raksasa Spanyol FC Barcelona dengan skor 2 - 1. Pada musim panas Fergie mendatangkan Ryan Giggs untuk posisi sayap kiri menggantikan Lee Sharpe. Pada bulan Januari 1993 Fergie kembali mendatangkan pemain baru bernama Eric Cantona dari Leeds United yang baru saja menjuarai Liga Inggris pada musim sebelumnya. Dengan skuad yang ideal menurut para fans performa tim diharapkan mampu meningkatkan prestasi United. Penampilan Eric Cantona dan Mark Hughes di lini depan, Ryan Giggs di sayap, Bryn Robson sang kapten dan benteng terakhir Peter Schmeichel membuat keyakinan akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik ditambah lagi mental juara pada diri pemain langsung berimbas pada performa United secara keeseluruhan yang langsung melejit memuncaki klasemen dan akhirnya menjadi juara Liga Inggris. Ini merupakan trofi Liga Inggris yang ke-8 sepanjang sejarah klub dan menjadi trofi Liga pertama bagi Ferguson sejak ia menangani United.

Pada musim 1993/1994 Fergie mendatangkan gelandang Roy Keane dari Nottingham Forrest sebagai pengganti Bryn Robson yang mulai memasuki masa pensiun. United langsung memimpin klasemen liga dari awal sampai kompetisi berakhir dimana Cantona sebagai pencetak gol tersubur dengan 25 gol. Di samping itu United tampil di final Piala FA dengan mengalahkan Chelsea 4 - 0. Ini merupakan gelar double pertama bagi Ferguson di United setelah dulu pernah juga mencapai prestasi serupa bersama Aberdeen.

Pemain Muda Bertalenta

Musim 1994/1995 merupakan debut para pemain muda bertalenta asuhan Fergie. Dia mencomot para pemain itu dari skuad 1992 yang menjuarai Piala FA Junior seperti : Paul Scholes, Garry Neville, Nicky Butt dan David Beckham. Pada musim ini United gagal mempertahankan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA. Pada musim berikutnya Fergie melakukan sesuatu yang mengejutkan para fans yaitu dengan menjual beberapa pemain hebat mereka seperti Paul Ince ke Inter Milan, Mark Hughes dilepas ke Chelsea dan Andrei Kanchelkis ke Everton. Jadi pada saat itu Fergie benar-benar mengandalkan para pemain muda dimana para fans dan media menduga tidak akan mampu memenangkan piala apapun dengan skuad muda belia. Namun mereka keliru, para pemain muda tersebut menunjukkan bukti sebaliknya dengan memenangkan pertandingan 5 kali berturut-turut. Pada akhir musim pasukan belia United sukses meraih gelar juara Liga Inggris dan meraih Piala FA setelah mengalahkan LIverpool 1 - 0 melalui gol Cantona. Pada musim 1996/1997 Fergie kembali mendatangkan pemain muda belia dari Norwegia yaitu Ole Gunnar Solskjaer yang secara mengejutkan akhirnya menjadi top skorer klub pada akhir musim.

Gelar Kebangsawanan Inggris

Pada musim 1997/1998 performa squad belia Fergie semakin matang. Dia kembali mentransfer Teddy Sheringham, Dwight Yorke dari Aston Villa, Jaap Stam dan Jesper Blomqvist. Dengan squad ini, United mencapai kesuksesan mereka pada musim ini dengan raihan 3 trofi juara dalam semusim yang dikenal dengan nama The Treble yang menguras emosi Fergie. Pertama, saat United berhadapan dengan Juventus di semi final Liga Champions Eropa dimana menit-menit awal Juventus unggul 2 - 0 namun berikutnya United unggul 3 - 2 melalui penampilan heroik sang kapten Roy Keane dan melaju ke babak final. Kedua, pada final Piala FA, United berhasil mengalahkan Newcastle United 2 - 0, dimana sebelum final Piala FA, United memastikan diri sebagai Juara Liga Inggris. Ketiga, pada final Piala Champions Eropa ketika United bertemu dengan Bayern Munchen, di menit-menit awal United kalah 0 - 1 namun pada akhirnya berhasil membalikkan posisi menjadi 2 - 1 untuk kemenangan United dan berhasil membawa pulang Piala Champions Eropa. Pada akhir musim Alex Ferguson dianugerahi gelar kebangsawanan Inggris, namanya pun resmi menjadi Sir Alex Ferguson. Pada musim-musim berikutnya Fergie berhasil membawa United untuk menjadi dominan di Liga Inggris dan ajang Eropa serta ajang internasional hingga dia pensiun dari United pada tahun 2013. Untuk lebih lengkapnya silahkan membaca prestasi yang diraih oleh Fergie di bawah ini.

Prestasi Alex Ferguson

St. Mirren (1)
Scottish First Division (1) : 1976/1977

Aberdeen (11 gelar)

  1. Scottish Premier Division (3) : 1979/1980, 1983/1984, 1984/1985
  2. Scottish Cup (4) : 1981/1982, 1982/1983, 1983/1984, 1984/1985
  3. Scottish League Cup (1) : 1980
  4. Drybrough Cup (1) : 1980
  5. UEFA Cup Winners' Cup (1) : 1982/1983
  6. UEFA Super Cup (1) : 1983

Manchester United (38 gelar)

  1. Premier League (13) : 1992/1993, 1993/1994, 1995/1996, 1996/1997, 1998/1999, 1999/2000, 2000/2001, 2002/2003, 2006/2007, 2007/2008, 2008/2009, 2010/2011, 2012/2013
  2. FA Cup (5) : 1989/1990, 1993/1994, 1995/1996, 1998/1999, 2003/2004
  3. League Cup (4) : 1991/1992, 2005/2006, 2008/2009, 2009/2010
  4. FA Charity/Community Shield (10) : 1990, 1993, 1994, 1996, 1997, 2003, 2007, 2008, 2010, 2011
  5. UEFA Champions League (2) : 1998/1999, 2007/2008
  6. UEFA Cup Winners' Cup (1) : 1990/1991
  7. UEFA Super Cup (1) : 1991
  8. Intercontinental Cup (1) : 1999
  9. FIFA Cup World Cup (1) : 2008


Well Bro dan Sis, demikialah artkel kita tentang Alex Ferguson yang merupakan salah satu manajer terhebat sepanjang masa. Masih banyak manajer hebat di dunia sepak bola yang akan Drive Ball angkat untuk dijadikan topik pada profil manajer. Terima kasih telah membaca artikel ini dan sebagai akhir kata Drive Ball ingin mengatakan manajer yang hebat adalah manajer yang mampu mengelola sebuah klub untuk meraih prestasi puncak dan mempertahankan prestasi tersebut sehingga membawa nama harum klub yang ditanganinya.

Salam The Art of Soccer!





Friday, February 3, 2017

Sejarah dan Prestasi Juventus : La Vecchia Signora

Lalu diputuskanlah tiga nama untuk dipilih : Societa Via Port, Societa Sportive Massimo D'Azeglio dan Sport Club Juventus. Tanpa banyak keberatan akhirnya resmilah nama klub mereka Sport Club Juventus yang kemudian berubah nama menjadi Foot Ball Club Juventus.



Salam The Art of Soccer!

Well. Bro dan Sis, profil klub kita kali ini adalah tentang sebuah klub sepak bola asal negeri pizza yang sudah terkenal akan berbagai prestasi baik dalam Liga Serie A maupun Liga Champion Eropa dan juga di kancah Internasional. Klub ini mempunyai jersey strip hitam putih dan satu-satunya klub Italia yang mempunyai stadion sendiri bergaya Inggris. Siapkah klub yang dimaksud? Betul, klub tersebut adalah Juventus FC. Pada kesempatan ini Drive Ball ingin mengupas lebih dalam lagi tentang klub yang dimiliki oleh keluarga Agnelli (Grup Fiat dan Exor S.p.A) ini.

Arti Kata Juventus

Juventus berasal dari bahasa Latin iuventus yang artinya masa muda. Juve adalah singkatan dari kata Juventus sebagai singkatan akrab untuk klub. Juventus adalah klub sepak bola profesional Italia yang bermarkas di Turin, Piedmont dimana mereka merupakan klub tertua ketiga dan klub profesional pertama di Italia.

Julukan

Dalam perjalanan sejarahnya, Juventus telah memiliki beberapa nama julukan antara lain La Vecchia Signora yang artinya si Nyonya Tua. Kata "old" yang merupakan bagian nama Juventus yang berarti "youth" dalam bahasa Latin. Nama ini diambil dari usia rata-rata pemain Juventus yang masih muda di era 1930-an. Nama "lady" merupakan bagian dari sebutan para tifosi (penggemar) ketika memanggil Juventus sebelum era 1930-an. Selain itu Juventus punya julukan La Fidanzatad'Italia (the Girlfriend of Italy) karena Juventus selalu memasok pemain baru dari Italia Selatan seperti Napoli dan Palermo, dimana selain bermain sebagai pemain sepak bola mereka adalah karyawan di FIAT sejak awal 1930-an. Ada pula julukan lain yaitu I Bianconeri (the black and white) dan Le Zebre (the zebras) yang mengacu pada warna jersey Juventus.

Sejarah Singkat

Nama awal Juventus adalah Sport Club Juventus didirikan pada tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum di Turin. Dibentuknya klub ini adalah sebagai pelampiasan dari anak-anak (berumur antara 15 - 17 tahun) yang saling berteman untuk menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan hal positif. Enrico Canfari salah satu pendiri Juventus memutuskan untuk mencari sebuah lokasi yang dijadikan sebagai markas mereka. Setelah menemukan markas, mereka melakukan pertemuan untuk menentukan nama klub mereka dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Ada yang suka nama latin, nama klasik dan sisanya netral. Lalu diputuskanlah tiga nama untuk dipilih : Societa Via Port, Societa Sportive Massimo D'Azeglio dan Sport Club Juventus. Akhirnya disetujuilah nama yang terakhir yaitu Spot Club Juventus yang dua tahun kemudian berubah nama menjadi Foot Ball Club Juventus. Klub ini lalu mengikuti kejuaraan sepak bola Italia pada tahun 1900. Saat itu jersey klub ini kaos berwarna pink celana berwarna hitam dan berhasil memenangkan gelar Serie A perdananya pada tahun 1905. Atas inspirasi sebuah klub dari Inggris yaitu Notts County, Juventus akhirnya mengubah warna jersey mereka menjadi hitam putih. Pada tahun 1906 beberapa pemain Juventus ingin keluar dari tim yang diikuti juga oleh presiden klub saat itu Alfredo Dick yang kemudian memutuskan membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang akhirnya menjadikan Juventus vs Torino sebagai Derby della Molle. Juventus sendiri tetap bisa eksis walaupun diguncang prahara di tubuh tim bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.

Keluarga Agnelli

Pada tahun 1923 Juventus diambil alih oleh pemilik FIAT yaitu Edoardo Agnelli yang kemudian membangun stadion baru. Kejadian ini menambah semangat baru untuk klub sehingga mereka merebut gelar scudetto pada musim 1925/1926 dengan mengalahkan Alba Roma. Sekitar rahun 1930-an Juventus menjadi klub super di Italia dengan mengantongi gelar lima kali berturut-turut dari tahun 1930 sampai 1935 dimana pemain bintangnya saat itu antara lain : Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti. Juventus sempat pindah kandang ke stadion Comunale dan pada tahun 1940-an prestasinya merosot bahkan harus mengakui keunggulan tim sekota yaitu Torino. Pada musim 1940/1941 Juventus berada di posisi ke-6 klasemen tetapi dapat merebut Piala Italia yang kedua kalinya pada musim berikutnya setelah menjuarai Piala Italia pertamanya di musim 1947/1938. Pada masa Perang Dunia II Italia ikut ambil bagian yang menyebabkan liga lokal menjadi terhambat.

Pada tahun 1945 presiden klub diambil alih oleh Gianni Agnelli. Di bawah presiden baru klub dirombak dimana Giampiero Boniparti berada dalam jajaran stafnya dengan menambah amunisi baru seperti Muccinelli dan striker asal Denmark John Hansen. Juventus lantas berhasil menambah dua gelar serie A pada musim 1949/1950 dan 1951/1952 di bawah pelatih asal Inggris Jesse Carver. Namun sayang pada tahun 1954 Gianni Agnelli hengkang meninggalkan klub dimana Juventus berada berada di periode gelap dan hanya mampu finis di posisi 7 klasemen liga Serie A. Setelah kekalahan demi kekalahan pada tahun 1956 Umberto Agnelli masuk sebagai komisioner klub dan klub kembali berbenah dengan mendatangkan beberapa pemain hebat masa itu seperti Omar Sivori dan John Charles, sehingga pada musim 1957/1958 Juventus kembali berjaya di Serie A dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan kehormatan karena telah memenangi gelar Serie A sebanyak 10 kali dan Omar Sivori menjadi pemain Juventus pertama yang merebut gelar sebagai Pemain Terbaik Eropa. Di saat yang sama klub yang juga sering dinamai i bianconeri ini berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final.

Pada musim-musim berikutnya Juventus masih berjaya di Serie A yaitu musim 1966/1967 terutama tahun 1970-an dimana mereka menemukan jati dirinya sebagai klub terbaik Italia. Pada musim 1972/1973 Juve kedatangan Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli untuk menambah kekuatan tim. Saat itu jadwal Juventus sangat padat karena selain bertanding di seie A mereka juga harus berlaga di kompetisi Eropa. Juventus merebut scudetto ke-15 mengalahkan AC Milan dan berhasil masuk final Piala Champion namun sayang di final mereka dikalahkan oleh Ajax amsterdam yang dimotori oleh Johan Crujff. Demikian pula pada musim 1974/1975, 1976/1977 dan 1977/1978 Juventus berhasil menambah gelar scudettonya. Dengan masuknya pelatih hebat yaitu Giovanni Trapattoni, La Vecchia Signora berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.

Era Giovanni Trapattoni

Harus diakui bahwa Giovanni Trapattoni adalah pelatih bertangan dingin. Berkat kehebatannya Juventus sangat perkasa dengan menambah gelar Serie A sebanyak empat kali. selain itu 6 pemainnya terpilih masuk skuad tim nasional Italia dan menjuarai Piala Dunia 1982 dengan Paolo Rossi sebagai salah satu pemain Juventus berhasil terpilih sebagai Pemain Terbaik Eropa tahun 1982 sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia. Pada musim 1982/1983 Juventus kembali difavoritkan menjadi juara apalagi setelah kedatangan bintang Prancis, Michel Platini. Terbukti, mereka kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilannya menembus perempat final Liga Champions. Namun karena konsentrasi Juventus pecah antara serie A dan kompetisi Eropa akhirnya mereka tidak mendapatkan gelar Serie A saat AS Roma berhasil merebutnya. Pun di Liga Champions, maunya menumpahkan kekecewaan karena tidak juara di Serie A, di Liga Champions saat final bertemu dengan Hamburg tetapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di serie A dan Liga Champions Eropa, Juventus akhirnya mendapat gelar hiburan saat menjadi juara Piala Italia dan Piala Interkontinental.

Tragedi Heysel

Setelah era keemasan Rossi usai, Michel Platini kemudian berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali berturut-turut yaitu tahun 1983, 1984 dan 1985 di mana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Platini juga menjadi bintang saat Juventus berhasil menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 1985 dengan sumbangan gol satu-satunya. Tragisnya, saat di final melawan Liverpool FC dari Inggris yang diselenggarakan di stadion Heysel Belgia harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifosi Juventus karena terjadi kerusuhan antar supertor dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan di eropa selama lima tahun. Peristiwa ini sampai sekarang masih dikenang oleh para tifosi.

Era Marcello Lippi

Selain Trapattoni ada juga pelatih bertangan dingin yang menangani Juventus. Dialah Marcello Lippi yang berhasil mengantarkan Juventus memenangi Serie A pada musim 1994/1995. Pemain bintang yang berhasil diorbitkan Lippi antara lain : Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat Alessandro del Piero. Lippi juga berhasil membawa pulang gelar Piala Champions Eropa dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melaui adu penalti. Pada periode ini ada beberapa pemain bintang lain yang muncul seperti : Zinedine Zidane, Fillipo Inzaghi dan Edgar Davids. Scudetto yang berhasil diraih Juventus berikutnya adalah pada musim 1996/1997 dan 1997/1998. Di samping itu di bawah asuhan Lippi Juventus berhasil menjuarai Piala Super UEFA tahun 1996 dan Piala Interkontinental tahun 1996 serta masuk ke partai final Liga Champions Eropa tahun 1997 dan 1998, namun mereka kalah oleh Borrusia Dortmund dan Real Madrid. Selanjutnya bintang lainnya lahir seperti Gianluigi Buffin, David Trezeguet, Pavel Nedeved dan Lilian Thuram yang berhasil membantu merebut scudetto pada musim 2001.2002 dan 2002/2003.

Skandal Calciopoli

Pada tahun 2004 pelatih Juventus adalah Fabio Capello dan berhasil memperoleh dua gelar Serie A. Namun pada Mei 2006 Juventus menjadi salah satu dari 5 klub Serie A terkait dengan skandal pengaturan skor pertandingan yang mengakibatkan klub kena hukuman terdegradasi ke Serie B untuk pertama kalinya dalam sejarah. Klub ini juga dilucuti dua gelar yang dibawa Capello pada tahun 2005 dan 2006. Pada saat kejadian tersebut banyak pemain utama meninggalkan klub seperti Thuram, Ibrahimovic dan Cannavaro. Tetapi beberapa pemain yang loyal masih tetap bersama Juventus seperti Buffon, del Piero, Trezeguet dan Nedved mengikuti kompetisi Serie B dan menjuarai liga dan dipromosikan kembali ke Serie A setelah musim 2006/2007.


Prestasi Juventus

Lega Calcio Serie A

Juara (32 kali)
1905, 1925/1926, 1930/1931, 1931/1932, 1932/1933, 1933/1934, 1934/1935, 1949/1950, 1951/1952, 1957/1958, 1959/1960, 1966/1967, 1971/1972, 1972/1973, 1974/1975, 1976/1977, 1977/1978, 1980/1981, 1981/1982, 1983/1984, 1985/1986, 1994/1995, 1996/1997, 1997/1998, 2001/2002, 2002/2003, 2011/2012, 2012/2013, 2013/2014, 2014/2015, 2015/2016

Runner Up (20 kali)
1903, 1904, 1906, 1937/1938, 1945/1946, 1946/1947, 1952/1953, 1953/1954, 1962/1963, 1973/1974, 1974/1975, 1979/1980, 1982/1983, 1986/1987, 1991/1992, 1993/1994, 1995/1996, 1999/2000, 2000/2001, 2008/2009

Lega Calcio Serie B
Juara (1 kali) : 2006/2007.

Piala Italia
Juara (11 kali)
1937/1938, 1941/1942, 1958/1959, 1959/1960, 1964/1965, 1978/1979, 1982/1983, 1989/1990, 1994/1995, 2014/2015, 2015/2016.

Runner Up (5 kali)
1972/1973, 1991/1992, 2001/2002, 2003/2004, 2011/2012

Piala Super Italia
Juara (7 kali)
1995, 1997, 2002, 2003, 2012, 2013, 2015

Runner Up (5 kali)
1990, 1998, 2005, 2014, 2016

Piala Kremlin
Juara (2 kali) : 1954, 1958

Liga Champions Eropa
Juara (2 kali) : 1984/1985, 1995/1996

Runner Up (6 kali) : 1972/1973, 1982/1983, 1996/1997, 1997/1998, 2002/2003, 2014/2015

Piala Winners UEFA
Juara (1 kali) : 1983/1984

Piala UEFA/Liga Europa
Juara (3 kali) : 1976/1977, 1989/1990, 1992/1993
Runner Up (1 kali) : 1994/1995

Piala Intertoto
Juara (1 kali) : 1999/2000

Piala Super UEFA
Juara (2 kali) : 1984, 1996


Piala Interkontinental
Juara (2 kali) : 1985, 1996
Runner Up (1 kali) : 1973

Juventini, sebutan untuk tifosi Juventus tentu tahu masih banyak prestasi yang ditorehkan oleh Le Zebre baik di dalam maupun di luar lapangan. Klub ini telah banyak menyumbangkan pemain untuk tim nasional Italia baik yang di junior maupun senior. Di luar lapangan, Juventus juga menunjukkan komitmennya terhadap segala masalah kemanusiaan dan sosial. Komitmen dan proyek-proyek yang didukung penuh oleh klub telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kebijakan dalam mewujudkan sebuah nilai dan idealisme yang selalu dipegang teguh oleh Juventus. Dalam beberapa tahun terakhir komitmen sosial Juventus berhasil mencapai beberapa area dan upaya tersebut telah melahirkan penghargaan yang dikenal dengan Scudetto della Solidarieta yang merupakan sebuah penghargaan yang diberikan oleh majalah Vita seperti misalnya : Proyek Growing Together at The Sant'Anna dengan tujuan untuk meningkatkan nilai pendanaan bagi proyek perbaikan ruang perawatan bayi yang baru lahir di rumah sakit Sant'Anna. Di samping itu ada pula proyek pembangunan Asylum untuk mengenang Edoardo Agnelli bekerja sama dengan Vicenza Voluntary Groups bertujuan untuk memberikan tempat penampungan bagi kaum ibu yang berada dalam kesulitan.

Well, Bro dan Sis demikianlah sejarah dan prestasi Juventus, La Vecchia Signora. Drive Ball mengucapkan terima kasih telah membaca artikel ini, semoga ada manfaatnya. Sebagai akhir kata  saya ucapkan Bravo, La Vecchia Signora, auguri per tutti scudetti!

Salam The Art of Soccer!

Monday, January 30, 2017

Big Match : The Reds Versus The Blues

Dua raksasa Inggris yaitu Liverpool dan Chelsea bertemu dalam Liga Primer Inggris 2016/2017. The Reds melawan The Blues. Liverpool berada dalam tekanan pasalnya lawan yang menyambangi mereka adalah pimpinan puncak klasemen sementara yaitu Chelsea yang berada dalam performa puncak, ditambah lagi kekalahan pertandingan sebelumnya.

Salam The Art of Soccer!

Well, Bro dan Sis pada kesempatan kali ini Drive Ball menulis artikel dengan judul di atas karena pertandingan dua raksasa Inggris ini adalah salah satu yang ditunggu-tunggu oleh penggemar sepak bola di Inggris dan juga penggemar kedua kesebelasan di seluruh dunia. Kali ini Liverpool bertindak sebagai tuan rumah yang berarti pertandingan dilaksanakan di stadion Anfield.

Baca juga : 13 Stadion Termegah Sebagai Kandang Klub Elit Eropa


Pada klasemen sementara Liga Primer Inggris 2016/2017, Chelsea berada di posisi puncak dengan mengantongi poin 55, sedangkan Liverpool berada di posisi ke-4 dengan perolehan poin 45 dibawah Arsenal dengan poin 47 dan Tottenham Hotspur dengan poin 46. Jadi pertandingan-pertandingan yang akan berlangsung pasti seru penuh dengan gengsi, mengadu strategi jitu untuk menjadi yang terbaik. Hasil pertandingannya otomatis akan mengubah klasemen pertandingan apalagi ada Manchester City di posisi kelima dengan perolehan poin 43 dan Manchester United di posisi keenam dengan poin 41.

Pada tiga pertemuan terakhir antar Liverpool vs Chelsea ini kekuatan kedua kesebelasan boleh dibilang berimbang. Pertemuan pertama pada semi final Football League Cup mereka bermain imbang dengan skor 1 - 1. Selanjutnya pada pertemuan kedua Chelsea unggul 1 - 0 sedangkan pada Liga Primer Inggris yang berlangsung pada tanggal 17 September 2016 Liverpool mampu menundukkan Chelsea dengan skor 2 - 1. Nah, kali ini siapakah pemenangnya?



Juergen Klopp sebagai manajer Liverpool sempat meminta maaf kepada penggemar the Reds karena pada pertandingan sebelumnya dikalahkan oleh Wolverhampton pada turnamen FA Cup. Kalau merunut ke belakang perjalanan the Reds tidaklah terlalu mulus. Bagaimana tidak? Terakhir sejak menang 1 - 0 atas Manchester City di malam tahun baru, Dejan Lovren dan kawan-kawan belum dapat lagi merasakan indahnya kemenangan. Berturut-turut mereka hanya mampu bermain dua kali imbang melawan Sunderland dan Manchester United serta kalah dari Swansea City di Liga Primer Inggris.

Awal bulan di tahun Ayam ini benar-benar mimpi buruk bagi Liverpool. Setelah kekalahan demi kekalahan yang diperoleh, the Reds tentunya tidak ingin mengulangi lagi. Melawan the Blues, para pemain akan berjuang mati-matian untuk memperoleh kemenangan, karena tidak ada cara terbaik untuk bangkit selain mengalahkan pemimpin puncak klasemen sementara Liga Primer Inggris itu. Akan tetapi beban dan tugas yang akan diemban pasukan Klopp ini tidak akan mudah, karena performa tim lawan sedang berada dalam kondisi puncak. Di samping itu ada kendala juga dalam tim dimana dua pemain andalannya yaitu Nathaniel Clne dan Adam Lallana masih dalam pengawasan tim medis.

Kebalikannya, di tubuh Chelsea tidak memiliki masalah berarti dimana kondisi pemain lebih bugar setelah Antonio Conte, sang manajer melakukan rotasi pemain pada saat mengikuti turnamen FA Cup. Pemain yang paling siaplah yang nanti diturunkan oleh Conte dalam menghadapi big match melawan Liverpool. Nama-nama seperti Hazard, Willian, David Luiz, Matic sudah siap dalam laga ini. Satu-satunya masalah bagi Chelsea adalah bagaimana mereka melakukan pendekatan permainan melawan tuan rumah yang tengah terluka hatinya karena harga diri tercabik-cabik akibat kekalahan demi kekalahan saja yang diperoleh. Pemain harus tenang dan mampu menahan emosi tetapi tetap awas karena bagaimanapun juga tuan rumah tentu ingin menang agar tidak terpuruk lagi.


Well, Bro dan Sis, demikianlah artikel kita kali ini. Drive Ball mengucapkan terima kasih telah membaca artikel ini dan jangan lupa tonton video pertandingan big match antara Liverpool vs Chelsea di atas. Akhir kata sampai jumpa

Salam The Art of Soccer!




Sunday, January 29, 2017

The Hand of God

Memiliki fisik yang kekar dan kuat dalam menghadapi permainan fisik yang keras. Tubuhnya yang pendek dengan pusat gravitasi yang rendah memungkinkan dirinya melakukan sprint cepat sambil menggiring bola. Dia adalah pengatur serangan dan seorang yang bermain untuk timnya, mempunyai kemampuan mumpuni dalam menguasai bola sehingga membuatnya mudah melewati para penjaganya.


Salam The Art of Soccer!

Well, Bro dan Sis, topik kita kali ini berjudul "The Hand of God", ini bukan judul novel ataupun judul film, tetapi sebuah istilah yang sangat populer pada Piala Dunia 1986 di Meksiko ketika Argentina bertemu dengan Inggris dimana pada partai tersebut Maradona membuat gol yang sangat buruk. Gol tersebut tercipta melalui bantuan tangan yang dikatakan Maradona sebagai bantuan "tangan Tuhan". Pada prolog di atas anda bisa membayangkan sosok mungil dan gempal tapi lincah dan lihai dalam mengolah si kulit bundar yang dipuja-puja penggemar sepak bola Argentina pada khususnya dan dunia pada umumnya. Dari istilah "Si Tangan Tuhan" inilah menjadikan inspirasi bagi Drive Ball untuk menulis artikel ini. Siapakah Maradona dan apakah dia bisa disejajarkan dengan legenda sepak bola dunia lainnya?

Baca juga : Sang Legenda Itu Bernama Pele

Masa Kecil

Sosok mungil yang cuma 165 cm ini bernama lengkap Diego Armando Maradona lahir di Lanus, Buenos Aires, Argentina pada tanggal 30 Oktober 1960. Maradona menghabiskan masa kecilnya dalam kemiskinan di Villa Fiorito dan dia adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara. Ketika masih anak-anak, Maradona sudah kelihatan mempunyai bakat di bidang olah raga sepak bola. Pada usia 10 tahun bakat sepak bolanya ini ditemukan oleh pemandu bakat dari klub Argentinos Junior. Kemudian dia direkrut dan 2 tahun kemudian Maradona menjadi maskot klub tersebut.

Karier Klub

Bakat alami yang dimiliki Maradona ini tercium sampai ke Inggris dimana Sheffield United mencoba untuk mentransfernya seharga 180.000 poundsterling tetapi Argentina Junior menolaknya. Setahun kemudian ia melakukan debut internasional bersama timnas Argentina. Pada tahun 1981, ia dibeli oleh klub Boca Juniors seharga 1 juta poundsterling dimana ia menjadi juara liga untuk pertama kalinya.

Pada karier senoir, Maradona tercatat pernah membela beberapa klub yaitu Argentinos Junior, Boca Juniors, Barcelona, Napoli, Sevilla, Newell's Old Boys, sedangkan pada tim nasional Argentina dia membelanya dari tahun 1977 hingga 1994. Setelah itu dia sempat melatih beberapa klub antara lain : Mandiyu de Corrientes (1994), Racing Club (1995) dan Al Wasl FC (2011 - 2012) serta tim nasional Argentina (2008 - 2010) .

1. Barcelona FC
Maradona pernah mencatat rekor transfer terbesar pada jamannya dengan harga 5 juta poundsterling tepatnya setelah Piala Dunia FIFA 1982 saat dia ditransfer ke Barcelona. Barcelona bersama Maradona yang ketika itu dilatih oleh Cesar Luis Menotti berhasil memenangkan Copa del Rey mengalahkan musuh abadinya yaitu Real Madrid dan memenangkan Piala Super Spanyol mengalahkan Athletic de Bilbao. Selama berkarier di Barcelona, Maradona mendapatkan beberapa masalah seperti divonis mengidap penyakit hepatitis, cedera engkel yang parah akibat ditekel keras oleh Andoni Golkeotxea pemain Athletic de Bilbao, sering bertengkar dengan presiden klub Josep Luiz Nunez. Kendala-kendala inilah membuat Maradona tidak betah berlama-lama di Barcelona, hingga ia kemudian ditransfer ke SSC Napoli tahun 1984.

2. SSC Napoli
Sejarah mencatat bahwa karier Maradona meroket ketika dia membela klub Italia Selatan yaitu SSC Napoli dan di sinilah puncak kariernya sekaligus keterpurukannya dalam sepak bola. Mengapa? Dia mencapai puncak kariernya karena ia membawa SSC Napoli menjadi juara Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah Napoli. Hal itu terjadi pada musim kompetisi serie A 1986/1987 dan 1989/1990. Di samping itu Napoli menjadi runner up serie A 1987/1988 dan 1988/1989 serta menjuarai Piala Italia tahun 1987. Dia tercatat pula sebagai penyerang tersubur dengan 15 gol. Di balik kesuksesannya itu, di sini pula awal keterpurukannya sebagai seorang pemain sepak bola profesional dimana ia mempunyai kebiasaan buruk yaitu mengkonsumsi kokain. Atas kelakuannya ini berkali-kali Maradona didenda oleh klubnya tersebut karena tidak tampil dalam latihan maupun pertandingan dengan alasan stres.

3. Sevilla
Saat di SSC Napoli, karier Maradona semakin meredup apalagi setelah terbukti menggunakan doping pada tahun 1991 dan dilarang bermain sepak bola selama 15 bulan. Otomatis dia tidak aktif di sepak bola saat menerima hukuman tersebut. Setelah bebas, ia kembali ke dunia yang membesarkan namanya tersebut dan bergabung dengan Sevilla. Namun sayang di sini kariernya tidak bagus malahan ia dipecat setahun setelah bergabung.

4. Newell's Old Boys
Setelah dari Sevilla, Maradona pulang kampung lalu bermain bersama klub lokal di Argentina bernama Newell's Old Boys. Namun sayang sekali, setelah 5 kali membela klub barunya ini lagi-lagi ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena diketahui melakukan doping terutama saat terjadinya Piala Dunia 1994 berlangsung. Dan vonis yang sama 15 bulan dilarang bermain sepak bola diiterimanya.

5. Boca Juniors
Setelah menjalani masa hukuman, rupa-rupanya Maradona tidak bisa meninggalkan sepak bola. pada tahun 1994 ia sempat menjadi pelatih Deportivo Mandiyu dan tahun 1995 melatih Racing Club. Menjadi pelatih ternyata bukan hokinya karena ia malah bermain lagi sebagai pemain sepak bola dan bergabung dengan Boca Juniors antara tahun 1995 dan 1997, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk gantung sepatu pada tanggal 30 Oktober 1997.

Karier Internasional

Maradona memulai karier internasionalnya bersama tim Tango, Argentina saat ia berumur 16 tahun tepatnya 27 Pebriari 1977 ketika melawan Hongaria. Pada Piala Dunia Junior di Jepang ia juga masuk tim inti dan membela Argentina ketika itu umurnya 18 tahun.

1. Piala Dunia 1982
Pada Piala Dunia 1982 yang diselenggarakan di Spanyol inilah debut Maradona dalam pentas Piala Dunia. Sebagai juara bertahan, Argentina mampu melaju ke babak berikutnya walaupun sempat dijegal Belgia 0 -1 pada babak penyisihan. Tetapi pada putaran berikutnya mereka kembali mengalami kekalahan oleh Italia 1 - 2 dan Brazil 1 - 3. Maradona tampil dalam semua pertandingan di Piala Dunia 1982 ini dan mencetak 2 gol semuanya dibuat saat melawan Hongaria.

2. Piala Dunia 1986
Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Maradona memperlihatkan kehebatannya sebagai kapten dan bintang Argentina. Sepak bola adalah kerja sama tim namun pada kejuaraan ini Maradona boleh dibilang hampir sendirian ia mengantarkan Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah yang pertama tahun 1978 di Argentina. Bagaimana tidak? Dia membuat gol terbaik sepanjang masa versi FIFA yaitu saat Argentina bertemu dengan Inggris. Pada saat itu Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, lalu melewati 5 orang pemain lawan sekaligus (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Total waktu yang dilakukan untuk itu kurang dari 10 detik. Wow! Namun sayangnya gol berikutnya dilakukan sangat buruk dimana gol tersebut tercipta melalui bantuan tangan yang dikatakan Maradona sebagai hasil bantuan "tangan Tuhan" dimana akhirnya ia mengakui bahwa hal tersebut dilakukan dengan sengaja

3. Piala Dunia 1990
Piala Dunia 1990 diselenggarakan di Italia dan Argentina mempercayakan ban kapten kepada Maradona, walaupun dibalut cedera lutut sebelum turnamen dimulai. Pada babak penyisihan perjalanan Argentina terseok-seok nyaris tidak lolos ke babak berikutnya. Di sini terjadi Superclasico des las Americas yaitu pertemuan dua raksasa Amerika Selatan yaitu Argentina melawan Brazil. Kali ini Argentina mempecundangi Brazil lewat Claudio Caniggia melalui umpan Maradona dan unggul 1 - 0. Di semi final bertemu dengan tuan rumah Italia diselesaikan dengan adu penalti seyelah skor 1 - 1 selama 2 x 45 menit. Maradona berhasil menyarangkan penalti dan Argentina lolos ke babak final. Di final Maradona dan kawan-kawan bertemu dengan Jerman Barat, namun sayang piala Piala Dunia jatuh ke Jerman Barat dimana gol dicetak oleh Andreas Brehme lewat pwnalti di menit ke-85.

4. Piala Dunia 1994
Maradona kembali dipercaya sebagai kapten tim nasional Argentina pada turnamen ini. namun ia hanya tampil sebanyak 2 kali dan mencetak 1 gol karena berikutnya ia ketahuan menggunakan doping dan dilarang berpartisipasi pada turnamen ini.


Adapun penghargaan yang pernah diperoleh Maradona antara lain :

  1. Golden Ball for Best Player of FIFA U-20 World Cup 1979
  2. Top Scorer Argentine League tahun 1979, 1980 dan 1981.
  3. Argentine Football Writers' Footballer of the Year tahun 1979, 1980, 1981 dan 1986.
  4. South Anerican Footballer of the Year (El Mundo, Caracas) tahun 1979, 1986, 1989, 1990 dan 1992.
  5. Italian Guerin d'Oro tahun 1985.
  6. Argentine Sports Writers' Sportsman of the Year tahun 1986.
  7. Golden Ball for Best Player of the FIFA World Cup tahun  1986.
  8. Golden Ball for Best Player of the FIFA World Cup tahun 1986.
  9. Best Footballer in the World Onze d'Or tahun 1986 dan 1987.
  10. Capocannoniere (Serie A Top Scorer) tahun 1987 dan 1988.
  11. Golden Ball for services to Football (France Football) tahun 1996.
  12. Argentine Sports Writers' Sportsman of the Century tahun 1999
  13. FIFA Goal of the Century (1986 vs England : second goal) tahun 2002.
  14. Argentine Senate "Domingo Faustino Sarmiento" Recognition for Lifetime Achievement
  15. FIFA Player of the Century.


Well Bro dan Sis demikianlah perjalanan karier "Si Tangan Tuhan" Diego Armando Maradona. Setelah berkarir di sepak bola pada tahun 2004, Maradona hampir meninggal dunia akibat serangan jantung karena over dosis kokain. Ia selamat dan setelah keluar dari rumah sakit ia melakukan operasi perut untuk mengurangi berat badannya dan pada Agustus 2005 ia mencoba karier baru di luar sepak bola sebagai pemandu acara talk show La Noche del 10 (Acara Malam si Nomor 10). Pada tahun 2008 dia terpilih sebagai pelatih kepala Argentina hingga membawa tim Tango ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dimana ia mampu membawa anak asuhannya tersebut sampai ke babak perempat final. Di babak ini Argentina babak belur dibantai oleh Jerman dengan skor telak 4 - 0. Dia dipecat pada bulan Juli 2010.

Drive Ball berpikir Maradona layak disebut legenda sepak bola dunia terlepas dari dunia kelamnya bersama kokain. Dia banyak menginspirasi pemain-pemain muda berbakat agar bisa berprestasi seperti dirinya. Di Argentina sendiri telah ada Lionel Messi yang walaupun belum bisa menyamai dirinya setidaknya telah ada generasi penerusnya yang akan melanjutkan tongkat estafet sepak bola di Argentina khususnya dan dunia pada umumnya. Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan seorang Maradona adalah terjerumus dengan kokain. Andaikata ia tidak pernah melakukan itu dalam hidupnya tentu cerita "Si Tangan Tuhan" akan lain. Well, Bro dan Sis itulah kehidupan. Sebagai akhir kata Drive Ball mengucapkan terima kasih telah membaca artikel ini, sampai jumpa pada artikel lainnya.

Salam TheArt of Soccer!


Friday, January 27, 2017

13 Stadion Termegah Sebagai Kandang Klub Elit Eropa

Untuk membangun klub berkelas dunia tidak hanya dibutuhkan deretan pemain atau sosok pelatih bernama besar, namun diperlukan juga investasi infrastruktur stadion yang menjadikan klub memiliki identitas bahkan menjadi ikon wisata olah raga sebuah negara.

Salam The Art of Soccer!

Well, Bro dan Sis, topik kita kali ini adalah tentang stadion termegah milik klub elit Eropa. Coba anda bayangkan sebuah klub elit  ternama, disegani, punya jutaan penggemar, punya pemain hebat, manajer mumpuni, sponsor melimpah namun tidak punya rumah sendiri, sungguh sebuah ironi. Klub-klub elit di Eropa rata-rata mempunyai rumah atau stadion sendiri yang merupakan identitas dan ikon klub itu sendiri. Stadion yang mana sajakah mereka? Siapakah pemilik stadion tersebut? Drive Ball telah merangkum nama-nama stadion termegah sebagai kandang klub elit Eropa.
Adapun 13 stadion termegah sebagai kandang klub elit Eropa adalah sebagai berikut :

1. Stadion Old Trafford

Old Trafford adalah stadion sepak bola yang berlokasi di Old Trafford, Greater Manchester Inggris dimana Manchester United menjadikannya sebagai markas. Berkapasitas 75.635 kursi stadion ini merupakan stadion terbesar ketiga dan stadion sepak bola terbesar kedua di Inggris serta stadion terbesar ke sebelas di Eropa. The Theatre of Dreams, demikian julukan stadion ini yang diberikan oleh Sir Bobby Charlton telah menjadi markas United sejak tahun 1910

Stadion Old Trafford diarsiteki oleh Archibald Leitch dimana pembangunannya dimulai tahun 1909 dan dibuka pada tanggal 19 Pebruari 1910 dengan menghabiskan biaya sebesar 90.000 poundsterling saat itu. Stadion berukuran 114,8 x 74,4 yard ini mengalami beberapa kali renovasi yaitu tahun 1990 dan tahun 2000-an, termasuk penambahan tingkat di tribun utara, barat dan timur yang membuat stadion kembali ke kapasitas aslinya yang dapat menampung 80.000 penonton. Rekor kehadiran stadion tercatat pada tahuin 1939, saat 76.962 orang menghadiri semifinal Piala FA antara Wolvehampton Wanderers dan Grimsby Town.

Pertandingan-pertandingan penting yang pernah diselenggarakan di Old Trafford antara lain : semifinal Piala FA, pertandingan Inggris, pertandingan pada Piala Dunia 1996 serta final Liga Champion Eropa tahun 2003. Stadion ini juga menjadi penyelenggara cabang sepak bola pada Olimpiade Musim Panas tahun 2012, termasuk sepak bola internasional wanita untuk pertama kalinya dalam sejarah.

2. Stadion Anfield

Anfield adalah nama stadion yang terletak di kota Liverpool, Inggris yang merupakan kandang bagi klub sepak bola Liverpool FC sejak klub ini didirikan pada tahun 1892. Awalnya stadion ini merupakan kandang dari klub Everton FC dari tahun 1884 hingga 1892, Everton kemudian pindah ke stadion Goodison Park. Sejak saat itulah Anfield menjadi kandang Liverpool sampai sekarang.


Terletak 4, 8 km dari pusat kota Liverpool, stadion Anfield mampu menampung sebanyak 45.276 penonton dengan ukuran lapangan 101 m x 68 m ini telah mengalami renovasi. Ada penambahan 8.500 kursi tambahan di tribun utama dimana bagian tersebut sengaja dirancang untuk mempertahankan suasana tak tertandingi dari semangat penduduk Anfield. Jika ditotal dengan tribun lainnya kursi penonton di Anfield bertambah menjadiu 65.000 kursi.

3. Stadion Emirates

Stadion Emirates adalah stadion yang terletak di Ashburton Grove, Holloway, London Utara yang merupakan kandang bagi Arsenal FC. Stadion ini merupakan stadion sepak bola terbesar kedua di kompetisi Liga Premier Inggris setelah Old Trafford dan merupakan terbesar keempat di Inggris Raya setelah stadion Wembley (London), Old Trafford (Manchester) dan stadion Millenium (Cardiff)

Stadion ini memiliki kapasitas 60.355 kursi menggantikan stadion lama Arsenal yaitu Highbury yang telah dipakai Arsenal selama kurang lebih 93 tahun (1913 - 2006).  Biaya pembangunan stadion yang diarsiteki oleh tim HOK Sport ini sekitar 430 juta Poundsterling mempunyai ukuran lapangan 105 m x 68 m. Nama resmi stadion ini adalah stadion Arsenal tetapi karena tim Arsenal mencapai kesepakatan dengan perusahaan penerbangan Emirates selama 15 tahun maka disebutlah stadion Emirates.

4. Stadion Etihad

Stadion Etihad adalah stadion yang terletak di Manchester dimana Manchester City memakainya sebagai kandang sejak tahun 2003. Mulanya stadion bernama stadion City of Manchester ini dibangun sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Olah raga Persemakmuran 2002.
Sejak Juli 2011 berubah nama menjadi stadion Etihad karena untuk tujuan sponsorship. Etihad merupakan stadion terbesar ketiga di liga Premier Inggris dan terbesar kelima di Inggris memiliki kapasitas 55.097 kursi. Stadion yang pembangunannya dimulai tahun 1999 ini diarsiteki oleh Arup Group Limited (desain stadion), KSS Design Group (interior) dan Populous (ekspansi) dan dibuka pada tanggal 25 Juli 2002 (atletik) dan tanggal 10 Agustus 2003 (sepak bola) dengan menelan biaya 110 juta poundsterling.

Pertandingan kandang pertama Manchester City di Liga Primer Inggris dilaksanakan tanggal 23 Agustus 2003 melawan Portsmouth dengan hasil imbang 1 - 1.

5. Stadion Stamford Bridge

Stamford Bridge adalah stadion sepak bola yang terletak di Fulham Road London, Inggris yang merupakan kandang Chelsea FC. Stadion ini sering disebut "The Bridge" oleh suporter klub tersebut berkapasitas 41.837 kursi penonton. Arsitek Stamford Bridge adalah Archibald Leitch mulai dibuat tahun 1876 dan dibuka pada tanggal 28 April 1877 serta digunakan oleh Athletics Club hingga tahun 1905, saat pemilik baru Gus Mears mendirikan Chelsea FC untuk menempati stadion. Chlsea memainkan pertandingan kandang di stadion ini sejak saat itu.

Stadion ini telah mengalami perubahan besar selama bertahun-tahun yang terakhir pada dekade 1990-an ketika dilakukan renovasi untuk menjadikan sebuah stadion yang lebih modern dengan kursi penonton setiap tribun. Terdiri dari 4 tribun yaitu tribun Matthew Harding, tribun timur, shed end dan tribun barat dimana masing-masing tribun mampu menampung jumlah penonton yang berbeda satu sama lainnya. Jumlah penonton liga tertinggi stadion ini adalah 82.905 orang saat menghadapi Arsenal pada tanggal 12 Oktober 1935.
6. Stadion Camp Nou

Camp Nou adalah stadion sepak bola yang berlokasi di Barcelona, Spanyol yang merupakan kandang Barcelona FC. Istilah Camp Nou berasal dari bahasa Catalan yang artinya lapangan baru, mulai pembangunannya tanggal 28 Maret 1954 dan dibuka pada tanggal 24 September 1957 dimana total biaya yang dihabiskan sebanyak 288 juta Peseta. Stadion yang diarsiteki oleh Francesc Mitjans-Miro Lorenzo Garcia Barbon Josep Soteras Mauri ini berkapasitas 98.772 kursi.

Stadion Camp Nou yang memiliki ukuran lapangan 105 m x 68 m ini akan direnovasi lagi dan Barcelona telah merilis desain baru stadion kebanggan mereka untuk target penyelesaian tahun 2021. Tim arsitek berasal dari Jepang yaitu Nikken Sekkei dan Pascuali Ausio Arquitectes diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 465 juta pounds. Stadion yang awalnya berkapasitas 98.772 kursi akan dikembangkan menjadi 105.000 kursi. Selama renovasi Barcelona tetap bisa bermain di sini.

7. Stadion Santiago Bernabeu

Santiago Bernabeu adalah stadion sepak bola yang terletak di kota Madrid, Spanyol, yang merupakan kandang bagi klub sepak bola Real Madrid. Stadion yang dulunya bernama stadion Chamartin (1947 - 1955) ini pernah mampu menampung sebanyak 120.000 penonton setelah diperluas pada tahun 1953. Karena arus modernisasi kapasitas untuk penonton mulai dikurangi. Kini stadion kebanggan Real Madrid ini berkapasitas 81.044 kursi.

Manuel Munoz Monasterio, Liuz Alemany Soler dan Antonio Lamela adalah para arsitek yang menukangi pembuatan stadion ini dimana pembangunannya mulai pada tanggal 27 Oktober 1944 dan dibuka 3 tahun kemudian tepatnya tanggal 15 Desember 1947 dengan total biaya sebesar 288.342.653 Peseta atau setara dengan 1.732.943 Euro. Santiago Bernabeu pernah diperbesar tahun 1953, 1992, 1994 dan 2011.



8. Stadion Juventus

Stadion Juventus adalah nama stadion sepak bola di Torino, Piemonte, Italia yang menjadi kandang Juventus. Stadion yang pembangunannya dimulai 1 Maret 2009 ini menghabiskan biaya sebesar 105 milliar Euro dan resmi dibuka pada tanggal 8 September 2011. Pada awalnya stadion ini bernama Juventus Arena akhirnya memilih nama stadion Juventus ini memiliki kapasitas 41.000 penonton. Stadion ini dibangun di atas lahan bekas stadion Delle Alpi, mengambil model dari stadion-stadion di Inggris. Hal ini bisa dilihat dari jarak tribun yang sangat dekat dengan lapangan yaitu sekitar 7,5 meter, sementara grand stand utama stadion ini berjarak 49 meter dari lapangan.

Stadion kebanggan il bianconeri yang diarsiteki oleh Hernando Suarez dan Gino Zavanella ini mempunyai ukuran lapangan 105 m x 68 m mengantarkan Juventus sebagai klub Italia pertama yang membangun dan mempunyai stadion sendiri. Pertandingan resmi perdana Juventus di stadion ini adalah pada laga pembuka musim serie A 2011/2012 pada tanggal 11 September 2011 melawan Parma.

9. Stadion Giuseppe Meazza

Stadion Giuseppe Meazza atau dikenal pula dengan nama stadion San Siro adalah kandang bagi 2 tim liga Italia dari serie A di kota Milan, yaitu AC Milan dan Internazionale Milan. Nama Giuseppe Meazza dipilih sebagai nama stadion pada tanggal 3 Maret 1980 untuk menghormati pemain sepak bola legendaris yang membawa Italia menjuarai Pila Dunia 1934 dan 1938, sekaligus mantan pemain Inter Milan. Suporter AC Milan lebih suka menggunakan nama San Siro untuk menyebut nama stadion ini karena Giuseppe Meazza lebih identik dengan Inter Milan walaupun pernah bermain untuk AC Milan. Sebenarnya milik siapakah stadion ini? Awalnya stadion ini adalah kandang bagi AC Milan, hingga pada tahun 1935 AC Milan mengalami kebangkrutan dan harus menjual stadion tersebut pada pemerintah kota Milan. Inter Milan kemudian menyewa stadion ini dari pemerintah kota Milan pada tahun 1947. Jadi pemilik stadion ini adalah pemerintah kota Milan.

Pembangunan stadion ini mulai tahun 1925 menghabiskan dana sebesar 5 juta Lira dan dibuka setahun kemudian yaitu tanggal 19 September 1926 ditandai dengan pertandingan derby antara AC Milan melawan Internazionale Milan yang dimenangkan oleh Inter Milan dengan skor 6 - 3. Lira. Dengan ukuran lapangan 105 m x 68 m, stadion ini mampu menampung penonton sebanyak 80.074 orang.

10. Stadion Allianz Arena

Allianz Arena adalah nama stadion sepak bola di sebelah utara kota Munchen, Jerman yang merupakan kandang bagi Bayern Munchen.  Mulai dibangun pada tanggal 21 Oktober 2002 dimana biaya pembuatannya sebesar 340 juta Euro dengan Herzog dan de Meuron ArupSport sebagai arsiteknya. Pembukaannya dilakukan tanggal 30 Mei 2005 dengan pertandingan persahabatan antara TSV 1860 Munchen dan FC Nurnberg.

Stadion yang juga merupakan tempat diadakannya pertandingan pembukaan Piala Dunia FIFA 2006 ini berkapasitas 66.000 penonton. Stadion ini berpenampilan futuristik, kerak bagian luar menampilkan 1056 panel berbentuk belah ketupat yang masing-masing dapat diterangi dalam warna yang berbeda (merah, biru atau putih) sehingga terlihat seperti suatu pola yang bergerak.

Stadion ini dioperasikan oleh Allianz Arena Munchen GmbH. Kompleks stadion ini dimiliki oleh dua tim sepak bola asal Munchen yaitu TSV 1860 Munchen dan Bayern Munchen. Tetapi karena TSV 1860 Munchen krisis keuangan maka FC Bayern Munchen mengambil alih semua kepemilikan Allianz Arena dan kini mereka 100% sebagai pemilik Allianz Arena.

11. Stadion Amsterdam ArenA

Stadion Amsterdam ArenA adalah stadion yang terletak di Amsterdam, Belanda merupakan kandang bagi Ajax Amsterdam.sebagai pengganti stadion sebelumnya yaitu stadion de Meer. Stadion ini dibuat tahun 1994 dengan biaya 96 juta Euro diarsiteki oleh Schuurman dan dibuka pada tahun 1996 dengan pertandingan antara Ajax dan AC Milan. Stadion berkapasitas 51.628 kursi ini sudah banyak menyelenggarakan pertandingan elit UEFA dan dunia seperti misalnya parta final Liga Champion Eropa antara Chelsea FC dengan Benfica.

Kelebihan stadion ini adalah atap stadion yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan sehingga kalau cuaca lagi hujan pun pertandingan bisa berlangsung tinggal menutup atapnya saja. Lama waktu yang diperlukan untuk membuka atau menutup atapnya adalah 20 menit yang dilakukan dengan motor listrik.



12. Stadion Parc des Princes

Stadion Parc des Princes adalah nama stadion sepak bola yang terletak di Paris, Prancis yang merupakan markas Paris Saint Germain (PSG). Dibuat pada tahun 1897 dengan Roger Tallibert sebagai arsiteknya dan dibuka pada tanggal 18 Juli 1897. Stadion yang pernah direnovasi tahun 1932 dan 1972 ini berkapasitas 48.713 penonton.

Stadion Parc des Princes ini pernah dipakai untuk putaran final Piala Dunia FIFA tahun 1998 dan Piala Eropa tahun 2016.




13. Stadion do Dragao

Stadion do Dragao adalah stadion sepak bola yang berlokasi di Porto, Portugal yang merupakan kandang Porto FC. Stadion do Dragao yang artinya stadion naga ini diarsiteki oleh Manuel Salgado dengan biaya pembuatan 98 juta Euro dan dibuka pada tanggal 16 November 2003, memiliki kapasitas 52.002 tempat duduk.

Stadion ini dibangun sebagai pengganti stadion lama milik Porto FC yaitu stadion Antas dan merupakan salah satu tempat penyelenggaraan kejuaraan sepak bola Eropa tahun 2004.






Well, Bro dan Sis, demikianlah ke-13 stadion termegah yang dijadikan sebagai kandang oleh klub-klub elit Eropa. Stadion tersebut di atas termasuk kategori bintang 5 menurut UEFA. Stadion yang megah dan canggih akan membuat bangga tidak hanya pemain, pelatih dan pengurus klub tetapi juga suporter klub itu sendiri yang menjadi identitas dan ikon klub. Akhir kata Drive Ball mengucapkan banyak terima kasih telah membaca artikel ini. Sampai jumpa pada lain artikel.

Salam The Art of Soccer!





Wednesday, January 25, 2017

Klasemen dan Top Scorer Sementara Liga Italia 2016/2017


Klasemen dan Top Scorer Liga Italia atau Serie A 2016/2017

No Team GP W D L GF GA GD PTS
1 Juventus 24 20 0 4 48 16 32 60
2 Roma 24 17 2 5 50 21 29 53
3 Napoli 24 15 6 3 57 26 31 51
4 Internazionale 24 14 3 7 39 24 15 45
5 Atalanta 24 14 3 7 39 26 13 45
6 Lazio 24 13 5 6 42 28 14 44
7 AC Milan 24 12 5 7 34 28 6 41
8 Fiorentina 24 11 7 6 41 33 8 40
9 Torino 24 9 8 7 45 36 9 35
10 Sampdoria 24 9 6 9 28 29 -1 33
11 Chievo 24 9 5 10 25 31 -6 32
12 Udinese 24 8 5 11 27 32 -5 29
13 Sassuolo 24 8 3 13 33 40 -7 27
14 Bologna 24 7 6 11 23 37 -14 27
15Cagliari 24 8 3 13 32 50 -18 27
16 Genoa 24 6 7 11 27 35 -8 25
17 Empoli 24 5 7 12 14 33 -19 22
18 Palermo 24 3 5 16 19 44 -25 14
19 Crotone 24 3 4 17 20 41 -21 13
20 Pescara 24 1 6 17 22 55 -33 9

Top Scorer Sementara Liga Italia 2016/2017

No Pemain Goal Tim
1 Edin Dzeko 18 AS Roma
2 Gonzalo Higuain 17 Juventus
3Andrea Belloti 17 Torino
4 Dries Mertens 16 Napoli
5 Mauro Icardi 15 Internazionale
6 Ciro Immobile 12 Lazio
7 Marco Borriello 10 Cagliari
8 Nikola Kalinic 10 Fiorentina
9 Iago Falque 10 Torino