Senior Master Agen

Senior Master Agen Link Alternatif SBOBET

Friday, February 17, 2017

Sejarah dan Fakta Liga Champions UEFA

Liga Champions Eropa atau dikenal juga dengan Liga Champions UEFA adalah kejuaraan antarklub sepak bola tahunan antara klub sepak bola-klub sepak bola tersukses di Eropa dan sering dianggap sebagai trofi tingkat klub yang paling bergengsi dan prestisius di Eropa.

Salam the Art of Soccer!

Bro dan Sis, berkaitan dengan berlangsungnya putaran 16 besar Piala Champions Eropa, tidak ada salahnya Drive Ball mengangkat topik terkait, kali ini tentang sejarah dan fakta-fakta pada Liga Champions UEFA. Silahkan baca terus artikel berikut.


Kejuaraan ini pada awalnya dimulai pada musim 1955/1956 dengan menggunakan sistem gugur dua leg, yaitu setiap klub bertanding dua kali, satu kandang satu tandang dan klub dengan skor rata-rata tertinggi maju ke babak berikutnya. Hanya klub-klub juara liga di masing-masing negara ditambah dengan pemegang juara pada saat itu yang berhak ikut ajang kompetisi bergengsi ini. Kejuaraan ini dicetuskan oleh salah satu majalah olah raga Perancis. Pada awalnya kejuaraan memperebutkan piala bernama Piala Juara Klub Eropa atau European Champion Clubs' Cup yang biasa disingkat menjadi Piala Eropa (European Cup). Pada ajang ini memperebutkan trofi berbentuk piala yang diberi julukan "The Big Ears" dimana piala yang diperebutkan sekarang adalah edisi ke-6 buatan Stadellman.

Format dan Nama Baru

Pada musim tahun 1992/1993 format dan nama kejuaraan ini diganti dari Piala Champion menjadi Liga Champions. Mulai saat itu kejuaraan mempunyai tiga babak kualifikasi, satu babak kompetisi grup dimana tim-tim bermain dalam bentuk tandang kandang seperti kompetisi reguler, empat babak final dengan sisitem gugur dilangsungkan dengan dua leg, kecuali pertandingan final yang merupakan pertandingan tunggal yang diselenggarakan di sebuah tempat yang telah ditentukan oleh UEFA.

Kualifikasi untuk Liga Champions ditentukan oleh posisi tim-tim di liga domestik dan melalui sistem kuota dimana negara-negara yang mempunyai liga domestik yang kuat diberikan lebih banyak kuota. Klub yang bermain di liga domestik yang lebih kuat juga mulai ikut pada babak yang lebih akhir. Contoh, tiga liga terkuat, menurut peringkat UEFA akan melihat juara dan runner upnya langsung masuk ke babak fase grup dan peringkat tiga dan empat masuk pada babak kualifikasi ketiga. Ada pengecualian pada peraturan ini yaitu juara bertahan Liga Champions lolos secara otomatis ke babak grup tanpa tergantung posisi akhirnya di liga domestik. Oleh karena itu bagi klub-klub yang ingin bertarung di ajang paling bergengsi di Eropa ini mereka berusaha berjuang habis-habisan untuk menempati posisi teratas di liga domestik.

Klub dengan Gelar Terbanyak

Tercatat dalam sejarah klub pemegang gelar terbanyak dalam ajang Piala Champions Eropa adalah Real Madrid yaitu sebanyak 11 kali dan menjadi terbanyak di seluruh Eropa. Klub-klub berikutnya adalah AC Milan (7 kali juara), Liverpool, Bayern Munchen dan Barcelona (5 kali juara), Ajax Amsterdam (4 kali juara), Manchester United dan Internazionale Milan (3 kali juara). Khusus bagi tim yang pernah juara Liga Champions minimal 5 kali tidak berturut-turut atau 3 kali berturut-turut di lengan baju kiri akan terdapat logo Liga Champions dan tertulis jumlah piala yang dikoleksi. Seperti misalnya Ajax klub yang berasal dari Amsterdam ini di lengan baju kiri terdapat logo Liga Champions disertai dengan jumlah piala yang diperoleh, karena mereka juara pada tahun 1971, 1972 dan 1973. Adapun tim-tim lain yang mengenakan logo Piala Champions di lengan yaitu Real Madrid, AC Milan, Liverpool dan Barcelona dan Bayern Munchen.


Dalam 19 musim terakhir hanya ada satu tim yang berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions (format dan namanya masih Piala Champiuons) selama 2 musim berturut-turut yaitu AC Milan yang saat itu berpredikat sebagai the Dream Team. Namun setelah formatnya diubah menjadi Liga Champions, belum ada satu tim pun yang berhasil mempertahankan gelar juaranya. Sebagai catatan, Milan dan Juventus adalah tim dalam 15 musim terakhir yang berhasil meraih final secara berturut-turut sebanyak 3 kali yaitu Milan (1993, 1994 juara dan 1995) dan Juventus (1996 juara, 1997 dan 1998).

Lagu Tema Liga Champions UEFA

Sejak format dan namanya menjadi Liga Champions pada tahun 1992, UEFA meminta kepada Tony Britten untuk membuat sebuah lagu tema untuk Liga Champions UEFA dan dia kemudian mengadaptasi lagu George Frideric Handel yang berjudul Zadok the Priest. Lagu tersebut kemudian dibawakan oleh Chorus of the Academy of St. Martin in the Fields dengan iringan musik oleh Royal Philharmonic Orchestra dimana lirik lagu ini menggunakan tiga bahasa resmi UEFA yaitu Inggris, Perancis dan Jerman. Chorus lagu ini dimainkan sebelum pertandingan Liga Champions Eropa dan juga sebelum dan sesudah setiap siaran pertandingan di televisi.

Pertandingan-pertandingan Liga Champions UEFA dapat diklik di sini

Sejak kompetisi ini dimulai, sudah ada enam pertandingan final satu negara yaitu Spanyol pada tahun 2000, 2014, 2016, Italia pada tahun 2003, Inggris pada tahun 2008 dan Jerman pada tahun 2013. Pertandingan final pada tahun 2014 merupakan pertandingan final pertama yang diikuti oleh dua tim yang berasal dari kota yang sama yaitu Madrid dan final tersebut terulang kembali pada tahun 2016.


Klub-klub yang melaju ke babak final kebanyakan dari negara-negara yang kompetisi domestiknya sudah kuat seperti Spanyol (La Liga), Italia (Serie A), Inggris (Premier League), Jerman (Bundesliga) dan Belanda (Eradivisie). Adapun distribusi juara Liga Champions UEFA berdasarkan negara dapat dilihat pada tabel berikut ini :

No Negara Juara Juara Kedua
1 Spanyol 16 10
2 Italia 12 15
3 Inggris 12 7
4 Jerman 7 10
5 Belanda 6 2
6 Portugal 4 5
7 Perancis 1 5
8 Skotlandia 1 1
9 Rumania 1 1
10 Yugoslavia 1 1
11 Yunani 0 1
12 Belgia 0 1
13 Swadia 0 1

Well, Bro dan Sis demikianlah artikel tentang Sejarah dan Fakta Liga Champions UEFA. Bagi para penggemar olah raga sepak bola terutama penggemar fanatik klub-klub raksasa Eropa tentu sangat antusias menunggu dan menyaksikan pertandingan di Liga Champions UEFA ini baik secara langsung maupun melalui televisi dan internet. Sportivitas dan fair play adalah sesuatu hal yang harus dijunjung tinggi oleh para pemain dalam mengikuti ajang yang penuh gengsi dan prestise ini. Sebagai akhir kata, Drive Ball mengucapkan selamat menyaksikan pertandingannya.

Salam the Art of Soccer!

Tuesday, February 7, 2017

Alex Ferguson, Manajer Terhebat Sepanjang Masa

Ferguson mampu mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton 1000 orang di pertandingan kandangnya menjadi juara Liga Skotlandia pada musim kompetisi 1976/1977.



Salam The Art of Soccer!

Manajer sepak bola adalah posisi jabatan di suatu klub sepak bola dimana tugas utamanya adalah mempersiapkan segala kebutuhan klub. Tugas manajer berbeda-beda bergantung kepada tradisi sepak bola di negara tertentu. Setiap liga sepak bola di berbagai negara mempunyai tugas bermacam-macam untuk seorang manajer. Sebagai contoh di Inggris jabatan manajer dijadikan satu dengan jabatan pelatih. Itu berarti di sana seorang pelatih harus merangkap 2 jabatan sekaligus.

Well, Bro dan Sis, kali ini Drive Ball akan mengangkat topik tentang profil seorang manajer hebat yang menangani beberapa klub di Eropa. Manajer atau pelatih yang hebat dan berpengalaman akan sangat diperlukan oleh sebuah tim atau klub sepak bola untuk mendongkrak prestasi. Kadangkala banyak manajer yang mengalami kegagalan dalam melatih sebuah klub yang kemudian berujung pada pemecatan. Akan tetapi banyak pula manajer yang meraih prestasi dengan mempersembahkan berbagai trofi kejuaraan bagi tim yang ditanganinya bahkan namanya dikenang terus sepanjang waktu. Oleh karena itu Drive Ball telah memilih seorang manajer mumpuni yang telah begitu banyak mengukir prestasi untuk kita bahas. Dia adalah Sir Alex Ferguson.

Karir Kepelatihan

1. St. Mirren (1974 - 1978)

Juara Liga Skotlandia

Pria asal Skotlandia bernama lengkap Alexander Chapman Ferguson yang lahir di Glasgow pada tanggal 31 Desember 1941 ini adalah seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola yang pernah menangani Manchester United. Dianggap sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah, ia telah memenangkan lebih banyak trofi daripada pelatih manapun sepanjang sejarah sepak bola Inggris.

Awal karir kepelatihan pria yang lebih akrab disapa Fergie ini dimulai pada tahun 1974 di sebuah klub kecil di Scotlandia bernama East Stirlingshire, dimana karirnya di sini bertahan tidak lama karena pada bulan Oktober 1974 ia menerima pinangan St Mirren untuk menjadi manajer. Karirnya di sini berlangsung gemilang selama 4 musim menangani klub tersebut (1974 - 1978) Ferguson mengangkat klub kecil yang tadinya hanya ditonton oleh 1000 orang dalam pertandingan kandangnya itu menjadi juara Liga Scotlandia pada musim 1977. Namun ironis, keberhasilan klub menjuarai Liga malah berujung pemecatan terhadap dirinya karena ia berselisih paham dengan stafnya. Presiden klub waktu itu Willie Todd menganggap Alex tidak mempunyai kemampuan manajerial yang baik.

2. Aberdeen (1978 - 1986)

The Furious Fergie

Antara tahun 1978 - 1986 Ferguson menjadi manajer Aberdeen dimana ia diharapkan untuk mengembalikan masa kejayaan Aberdeen yang menjuarai Liga Scotlandia terakhir kali pada tahun 1955. Namun karena usia Ferguson yang masih 36 tahun saat itu tetap saja kesulitan meraih respek dari para pemain yang beberapa di antaranya lebih tua daripada manajer mereka sendiri. Namun walaupun demikian Ferguson telah mampu menorehkan prestasi karena ia berhasil membawa Aberdeen ke semi final Piala Skotlandia dan Piala Skotlandia. Kemudian ia juga mampu memoles performa Aberdeen hingga akhirnya mereka menjuarai Liga Skotlandia pada musim 1978/1980. Hal ini membuat Ferguson mendapatkan kepercayaan dan respek dari para pemain dan direktur klub. Para pemain menjulukinya Furious Fergie atau Fergie yang galak.

Berkat kedisiplinan yang diterapkan Ferguson, Aberdeen semakin berjaya dan sukses dalam musim-musim berikutnya, diantaranya meraih Piala Skotlandia pada musim 1981/1982 yang mengantarkan mereka ke ajang Eropa yaitu Piala Winners. Keberhasilan Ferguson dalam menangani Aberdeen mendapat sorotan media tatkala mereka secara mengejutkan mampu menyingkirkan Bayern Munchen dan juga akhirnya mengalahkan raksasa Spanyol Real Madrid 2 - 1 di final dan membawa pulang Piala Winners pada tanggal 11 Mei 1983.

Dalam kompetisi domestik Aberdeen berhasil mempertahankan mahkota juara Piala Skotlandia dengan mengalahkan Rangers di final dengan skor 1 - 0. Pada musim berikutnya lagi-lagi berkat tangan dingin Ferguson, Aberdeen kembali meraih gelar juara Piala Skotlandia untuk ke tiga kalinya berturut-turut dan meraih gelar juara Liga Skotlandia. Hal ini membuat Ferguson dianugerahi gelar OBE pada tahun 1984. Pada musim 1984/1985 Aberdeen berhasil mempertahankan gelar juara Liga Slotlandia namun pada musim berikutnya mereka gagal di liga (posisi 4) tetapi mampu menjadi juara Piala Liga dan Piala Skotlandia. Pada musim yang sama Ferguson adalah salah satu staf pelatih dalam tim nasional Skotlandia ketika menghadapi ajang Piala Dunia 1986.

3. Manchester United (1986 - 2013)

Debut Pertama, Kalah!

Pada bulan November 1986 Ferguson menerima pinangan Manchester United, setelah ia menolak jabatan menjadi salah satu direktur di Aberdeen karena jasa-jasanya. Ketika bergabung dengan United ia mendapatkan beberapa pemain ada yang bermasalah dengan alkohol dimana mereka mempunyai hobi minum minuman keras yang berpengaruh terhadap kebugaran pemain itu sendiri. Secara perlahan tapi pasti Ferguson berusaha menghilangkan kebiasaan buruk anak asuhannya itu dengan menanamkan disiplin yang ketat yang akhirnya masih berlaku sampai saat ini di Manchester United.

Ferguson melakukan pertandingan debutnya di Manchester United berakhir dengan kekalahan 0 - 2 ketika melawan Oxford United diikuti dengan seri 0 - 0 pada pertandingan berikutnya melawan Norwich City. Kemenangan baru diperoleh Ferguson saat melawan Queens Park Ranger di Old Trafford dengan skor 1 - 0 untuk United. Ini adalah kemenangan pertama yang diraih Ferguson selama memulai karirnya bersama Manchester United. Kemenangan istimewa berikutnya adalah ketika berhasil menaklukkan rival abadinya yaitu Liverpool di kandangnya sendiri dengan dimana sebelumnya Ferguson melalui media mengatakan bahwa ia akan mengubah dominasi di Liga Inggris yang selama ini dipegang oleh Liverpool.

Dari Posisi 21 ke Posisi 11

Pada musim pertamanya di Manchester United, Ferguson hanya mampu mengantarkan United berada di posisi 11 Liga Inggris yang sebelumnya terpuruk di posisi 21. Menghadapi musim kompetisi berikutnya Ferguson mulai berbenah kembali di tubuh United dengan mendatangkan beberapa pemain baru diantaranya Sreve Bruce, Brian McClair dan Jim Leighton. Dengan tambahan amunisi dan tentunya usaha yang keras dari manajer yang bertangan dingin ini, Manchester United berhasil menduduki posisi 2 di bawah "The Reds" Liverpool. Namun sayang pada musim 1988/1989 United kembali merosot turun berada di posisi 11.

Trofi Pertama

Pada musim 1989/1990 beberapa pemain baru kembali didatangkan Ferguson seperti Paul Ince, Neil Webb dan Gary Pallister. Ketika kompetisi mulai bergulir, United mampu mencatat kemenangan melawan juara bertahan saat itu Arsenal dengan skor 4 - 1, namun dikalahkan oleh tim sekota yaitu Manchester City dengan skor memalukan 5 - 1. Para penggemar mulai menuntut mundur Ferguson dengan banyaknya spanduk itu di Old Trafford. Ditambah lagi kondisi United sebagai salah satu calon tim yang akan mengalami degradasi dari Liga Inggris. Ini adalah masa tersuram bagi Ferguson selama meniti karir sebagai manajer sepak bola. Walaupun tuntutan untuk mundur dari penggemar terus berlangsung tetapi dewan direktur klub tetap mempercayai Ferguson sebagai manajer, dimana akhirnya Ferguson menebus kepercayaan itu dengan kemenangan melawan Crystal Palace 1 - 0 di final Piala FA. Trofi ini merupakan trofi pertama Ferguson selama menangani United dan sekaligus trofi penyelamat karirnya di Manchester United.

Puncak Klasemen dan Juara Liga Inggris

Raihan trofi pertama untuk Ferguson membuat para fans berharap banyak pada musim berikutnya. Pada musim 1990/1991 Fergie mendatangkan kiper asal Denmark yaitu Peter Schmeichel dan Andrei Kanchelkis untuk mengisi posisi sayap kanan. Dengan kondisi tim yang bongkar pasang pemain tidak serta merta memperoleh hasil yang memuaskan. Terbukti, walaupun sempat menang melawan Arsenal 6 - 2 di Highbury, namun sempat dikalahkan Everton di Old Traford 0 - 2. Kemudian kemenangan lagi terus kekalahan lagi. Performa inkonsistensi mereka di Liga Inggris tidak berpengaruh pada penampilan di ajang Eropa seperti Piala Winners, Piala Liga dan Piala Super Eropa dimana United mampu melaju ke babak final Piala Winners dengan mengalahkan raksasa Spanyol FC Barcelona dengan skor 2 - 1. Pada musim panas Fergie mendatangkan Ryan Giggs untuk posisi sayap kiri menggantikan Lee Sharpe. Pada bulan Januari 1993 Fergie kembali mendatangkan pemain baru bernama Eric Cantona dari Leeds United yang baru saja menjuarai Liga Inggris pada musim sebelumnya. Dengan skuad yang ideal menurut para fans performa tim diharapkan mampu meningkatkan prestasi United. Penampilan Eric Cantona dan Mark Hughes di lini depan, Ryan Giggs di sayap, Bryn Robson sang kapten dan benteng terakhir Peter Schmeichel membuat keyakinan akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik ditambah lagi mental juara pada diri pemain langsung berimbas pada performa United secara keeseluruhan yang langsung melejit memuncaki klasemen dan akhirnya menjadi juara Liga Inggris. Ini merupakan trofi Liga Inggris yang ke-8 sepanjang sejarah klub dan menjadi trofi Liga pertama bagi Ferguson sejak ia menangani United.

Pada musim 1993/1994 Fergie mendatangkan gelandang Roy Keane dari Nottingham Forrest sebagai pengganti Bryn Robson yang mulai memasuki masa pensiun. United langsung memimpin klasemen liga dari awal sampai kompetisi berakhir dimana Cantona sebagai pencetak gol tersubur dengan 25 gol. Di samping itu United tampil di final Piala FA dengan mengalahkan Chelsea 4 - 0. Ini merupakan gelar double pertama bagi Ferguson di United setelah dulu pernah juga mencapai prestasi serupa bersama Aberdeen.

Pemain Muda Bertalenta

Musim 1994/1995 merupakan debut para pemain muda bertalenta asuhan Fergie. Dia mencomot para pemain itu dari skuad 1992 yang menjuarai Piala FA Junior seperti : Paul Scholes, Garry Neville, Nicky Butt dan David Beckham. Pada musim ini United gagal mempertahankan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA. Pada musim berikutnya Fergie melakukan sesuatu yang mengejutkan para fans yaitu dengan menjual beberapa pemain hebat mereka seperti Paul Ince ke Inter Milan, Mark Hughes dilepas ke Chelsea dan Andrei Kanchelkis ke Everton. Jadi pada saat itu Fergie benar-benar mengandalkan para pemain muda dimana para fans dan media menduga tidak akan mampu memenangkan piala apapun dengan skuad muda belia. Namun mereka keliru, para pemain muda tersebut menunjukkan bukti sebaliknya dengan memenangkan pertandingan 5 kali berturut-turut. Pada akhir musim pasukan belia United sukses meraih gelar juara Liga Inggris dan meraih Piala FA setelah mengalahkan LIverpool 1 - 0 melalui gol Cantona. Pada musim 1996/1997 Fergie kembali mendatangkan pemain muda belia dari Norwegia yaitu Ole Gunnar Solskjaer yang secara mengejutkan akhirnya menjadi top skorer klub pada akhir musim.

Gelar Kebangsawanan Inggris

Pada musim 1997/1998 performa squad belia Fergie semakin matang. Dia kembali mentransfer Teddy Sheringham, Dwight Yorke dari Aston Villa, Jaap Stam dan Jesper Blomqvist. Dengan squad ini, United mencapai kesuksesan mereka pada musim ini dengan raihan 3 trofi juara dalam semusim yang dikenal dengan nama The Treble yang menguras emosi Fergie. Pertama, saat United berhadapan dengan Juventus di semi final Liga Champions Eropa dimana menit-menit awal Juventus unggul 2 - 0 namun berikutnya United unggul 3 - 2 melalui penampilan heroik sang kapten Roy Keane dan melaju ke babak final. Kedua, pada final Piala FA, United berhasil mengalahkan Newcastle United 2 - 0, dimana sebelum final Piala FA, United memastikan diri sebagai Juara Liga Inggris. Ketiga, pada final Piala Champions Eropa ketika United bertemu dengan Bayern Munchen, di menit-menit awal United kalah 0 - 1 namun pada akhirnya berhasil membalikkan posisi menjadi 2 - 1 untuk kemenangan United dan berhasil membawa pulang Piala Champions Eropa. Pada akhir musim Alex Ferguson dianugerahi gelar kebangsawanan Inggris, namanya pun resmi menjadi Sir Alex Ferguson. Pada musim-musim berikutnya Fergie berhasil membawa United untuk menjadi dominan di Liga Inggris dan ajang Eropa serta ajang internasional hingga dia pensiun dari United pada tahun 2013. Untuk lebih lengkapnya silahkan membaca prestasi yang diraih oleh Fergie di bawah ini.

Prestasi Alex Ferguson

St. Mirren (1)
Scottish First Division (1) : 1976/1977

Aberdeen (11 gelar)

  1. Scottish Premier Division (3) : 1979/1980, 1983/1984, 1984/1985
  2. Scottish Cup (4) : 1981/1982, 1982/1983, 1983/1984, 1984/1985
  3. Scottish League Cup (1) : 1980
  4. Drybrough Cup (1) : 1980
  5. UEFA Cup Winners' Cup (1) : 1982/1983
  6. UEFA Super Cup (1) : 1983

Manchester United (38 gelar)

  1. Premier League (13) : 1992/1993, 1993/1994, 1995/1996, 1996/1997, 1998/1999, 1999/2000, 2000/2001, 2002/2003, 2006/2007, 2007/2008, 2008/2009, 2010/2011, 2012/2013
  2. FA Cup (5) : 1989/1990, 1993/1994, 1995/1996, 1998/1999, 2003/2004
  3. League Cup (4) : 1991/1992, 2005/2006, 2008/2009, 2009/2010
  4. FA Charity/Community Shield (10) : 1990, 1993, 1994, 1996, 1997, 2003, 2007, 2008, 2010, 2011
  5. UEFA Champions League (2) : 1998/1999, 2007/2008
  6. UEFA Cup Winners' Cup (1) : 1990/1991
  7. UEFA Super Cup (1) : 1991
  8. Intercontinental Cup (1) : 1999
  9. FIFA Cup World Cup (1) : 2008


Well Bro dan Sis, demikialah artkel kita tentang Alex Ferguson yang merupakan salah satu manajer terhebat sepanjang masa. Masih banyak manajer hebat di dunia sepak bola yang akan Drive Ball angkat untuk dijadikan topik pada profil manajer. Terima kasih telah membaca artikel ini dan sebagai akhir kata Drive Ball ingin mengatakan manajer yang hebat adalah manajer yang mampu mengelola sebuah klub untuk meraih prestasi puncak dan mempertahankan prestasi tersebut sehingga membawa nama harum klub yang ditanganinya.

Salam The Art of Soccer!





Friday, February 3, 2017

Sejarah dan Prestasi Juventus : La Vecchia Signora

Lalu diputuskanlah tiga nama untuk dipilih : Societa Via Port, Societa Sportive Massimo D'Azeglio dan Sport Club Juventus. Tanpa banyak keberatan akhirnya resmilah nama klub mereka Sport Club Juventus yang kemudian berubah nama menjadi Foot Ball Club Juventus.



Salam The Art of Soccer!

Well. Bro dan Sis, profil klub kita kali ini adalah tentang sebuah klub sepak bola asal negeri pizza yang sudah terkenal akan berbagai prestasi baik dalam Liga Serie A maupun Liga Champion Eropa dan juga di kancah Internasional. Klub ini mempunyai jersey strip hitam putih dan satu-satunya klub Italia yang mempunyai stadion sendiri bergaya Inggris. Siapkah klub yang dimaksud? Betul, klub tersebut adalah Juventus FC. Pada kesempatan ini Drive Ball ingin mengupas lebih dalam lagi tentang klub yang dimiliki oleh keluarga Agnelli (Grup Fiat dan Exor S.p.A) ini.

Arti Kata Juventus

Juventus berasal dari bahasa Latin iuventus yang artinya masa muda. Juve adalah singkatan dari kata Juventus sebagai singkatan akrab untuk klub. Juventus adalah klub sepak bola profesional Italia yang bermarkas di Turin, Piedmont dimana mereka merupakan klub tertua ketiga dan klub profesional pertama di Italia.

Julukan

Dalam perjalanan sejarahnya, Juventus telah memiliki beberapa nama julukan antara lain La Vecchia Signora yang artinya si Nyonya Tua. Kata "old" yang merupakan bagian nama Juventus yang berarti "youth" dalam bahasa Latin. Nama ini diambil dari usia rata-rata pemain Juventus yang masih muda di era 1930-an. Nama "lady" merupakan bagian dari sebutan para tifosi (penggemar) ketika memanggil Juventus sebelum era 1930-an. Selain itu Juventus punya julukan La Fidanzatad'Italia (the Girlfriend of Italy) karena Juventus selalu memasok pemain baru dari Italia Selatan seperti Napoli dan Palermo, dimana selain bermain sebagai pemain sepak bola mereka adalah karyawan di FIAT sejak awal 1930-an. Ada pula julukan lain yaitu I Bianconeri (the black and white) dan Le Zebre (the zebras) yang mengacu pada warna jersey Juventus.

Sejarah Singkat

Nama awal Juventus adalah Sport Club Juventus didirikan pada tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum di Turin. Dibentuknya klub ini adalah sebagai pelampiasan dari anak-anak (berumur antara 15 - 17 tahun) yang saling berteman untuk menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan hal positif. Enrico Canfari salah satu pendiri Juventus memutuskan untuk mencari sebuah lokasi yang dijadikan sebagai markas mereka. Setelah menemukan markas, mereka melakukan pertemuan untuk menentukan nama klub mereka dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Ada yang suka nama latin, nama klasik dan sisanya netral. Lalu diputuskanlah tiga nama untuk dipilih : Societa Via Port, Societa Sportive Massimo D'Azeglio dan Sport Club Juventus. Akhirnya disetujuilah nama yang terakhir yaitu Spot Club Juventus yang dua tahun kemudian berubah nama menjadi Foot Ball Club Juventus. Klub ini lalu mengikuti kejuaraan sepak bola Italia pada tahun 1900. Saat itu jersey klub ini kaos berwarna pink celana berwarna hitam dan berhasil memenangkan gelar Serie A perdananya pada tahun 1905. Atas inspirasi sebuah klub dari Inggris yaitu Notts County, Juventus akhirnya mengubah warna jersey mereka menjadi hitam putih. Pada tahun 1906 beberapa pemain Juventus ingin keluar dari tim yang diikuti juga oleh presiden klub saat itu Alfredo Dick yang kemudian memutuskan membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang akhirnya menjadikan Juventus vs Torino sebagai Derby della Molle. Juventus sendiri tetap bisa eksis walaupun diguncang prahara di tubuh tim bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.

Keluarga Agnelli

Pada tahun 1923 Juventus diambil alih oleh pemilik FIAT yaitu Edoardo Agnelli yang kemudian membangun stadion baru. Kejadian ini menambah semangat baru untuk klub sehingga mereka merebut gelar scudetto pada musim 1925/1926 dengan mengalahkan Alba Roma. Sekitar rahun 1930-an Juventus menjadi klub super di Italia dengan mengantongi gelar lima kali berturut-turut dari tahun 1930 sampai 1935 dimana pemain bintangnya saat itu antara lain : Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti. Juventus sempat pindah kandang ke stadion Comunale dan pada tahun 1940-an prestasinya merosot bahkan harus mengakui keunggulan tim sekota yaitu Torino. Pada musim 1940/1941 Juventus berada di posisi ke-6 klasemen tetapi dapat merebut Piala Italia yang kedua kalinya pada musim berikutnya setelah menjuarai Piala Italia pertamanya di musim 1947/1938. Pada masa Perang Dunia II Italia ikut ambil bagian yang menyebabkan liga lokal menjadi terhambat.

Pada tahun 1945 presiden klub diambil alih oleh Gianni Agnelli. Di bawah presiden baru klub dirombak dimana Giampiero Boniparti berada dalam jajaran stafnya dengan menambah amunisi baru seperti Muccinelli dan striker asal Denmark John Hansen. Juventus lantas berhasil menambah dua gelar serie A pada musim 1949/1950 dan 1951/1952 di bawah pelatih asal Inggris Jesse Carver. Namun sayang pada tahun 1954 Gianni Agnelli hengkang meninggalkan klub dimana Juventus berada berada di periode gelap dan hanya mampu finis di posisi 7 klasemen liga Serie A. Setelah kekalahan demi kekalahan pada tahun 1956 Umberto Agnelli masuk sebagai komisioner klub dan klub kembali berbenah dengan mendatangkan beberapa pemain hebat masa itu seperti Omar Sivori dan John Charles, sehingga pada musim 1957/1958 Juventus kembali berjaya di Serie A dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan kehormatan karena telah memenangi gelar Serie A sebanyak 10 kali dan Omar Sivori menjadi pemain Juventus pertama yang merebut gelar sebagai Pemain Terbaik Eropa. Di saat yang sama klub yang juga sering dinamai i bianconeri ini berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final.

Pada musim-musim berikutnya Juventus masih berjaya di Serie A yaitu musim 1966/1967 terutama tahun 1970-an dimana mereka menemukan jati dirinya sebagai klub terbaik Italia. Pada musim 1972/1973 Juve kedatangan Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli untuk menambah kekuatan tim. Saat itu jadwal Juventus sangat padat karena selain bertanding di seie A mereka juga harus berlaga di kompetisi Eropa. Juventus merebut scudetto ke-15 mengalahkan AC Milan dan berhasil masuk final Piala Champion namun sayang di final mereka dikalahkan oleh Ajax amsterdam yang dimotori oleh Johan Crujff. Demikian pula pada musim 1974/1975, 1976/1977 dan 1977/1978 Juventus berhasil menambah gelar scudettonya. Dengan masuknya pelatih hebat yaitu Giovanni Trapattoni, La Vecchia Signora berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.

Era Giovanni Trapattoni

Harus diakui bahwa Giovanni Trapattoni adalah pelatih bertangan dingin. Berkat kehebatannya Juventus sangat perkasa dengan menambah gelar Serie A sebanyak empat kali. selain itu 6 pemainnya terpilih masuk skuad tim nasional Italia dan menjuarai Piala Dunia 1982 dengan Paolo Rossi sebagai salah satu pemain Juventus berhasil terpilih sebagai Pemain Terbaik Eropa tahun 1982 sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia. Pada musim 1982/1983 Juventus kembali difavoritkan menjadi juara apalagi setelah kedatangan bintang Prancis, Michel Platini. Terbukti, mereka kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilannya menembus perempat final Liga Champions. Namun karena konsentrasi Juventus pecah antara serie A dan kompetisi Eropa akhirnya mereka tidak mendapatkan gelar Serie A saat AS Roma berhasil merebutnya. Pun di Liga Champions, maunya menumpahkan kekecewaan karena tidak juara di Serie A, di Liga Champions saat final bertemu dengan Hamburg tetapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di serie A dan Liga Champions Eropa, Juventus akhirnya mendapat gelar hiburan saat menjadi juara Piala Italia dan Piala Interkontinental.

Tragedi Heysel

Setelah era keemasan Rossi usai, Michel Platini kemudian berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali berturut-turut yaitu tahun 1983, 1984 dan 1985 di mana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Platini juga menjadi bintang saat Juventus berhasil menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 1985 dengan sumbangan gol satu-satunya. Tragisnya, saat di final melawan Liverpool FC dari Inggris yang diselenggarakan di stadion Heysel Belgia harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifosi Juventus karena terjadi kerusuhan antar supertor dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan di eropa selama lima tahun. Peristiwa ini sampai sekarang masih dikenang oleh para tifosi.

Era Marcello Lippi

Selain Trapattoni ada juga pelatih bertangan dingin yang menangani Juventus. Dialah Marcello Lippi yang berhasil mengantarkan Juventus memenangi Serie A pada musim 1994/1995. Pemain bintang yang berhasil diorbitkan Lippi antara lain : Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat Alessandro del Piero. Lippi juga berhasil membawa pulang gelar Piala Champions Eropa dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melaui adu penalti. Pada periode ini ada beberapa pemain bintang lain yang muncul seperti : Zinedine Zidane, Fillipo Inzaghi dan Edgar Davids. Scudetto yang berhasil diraih Juventus berikutnya adalah pada musim 1996/1997 dan 1997/1998. Di samping itu di bawah asuhan Lippi Juventus berhasil menjuarai Piala Super UEFA tahun 1996 dan Piala Interkontinental tahun 1996 serta masuk ke partai final Liga Champions Eropa tahun 1997 dan 1998, namun mereka kalah oleh Borrusia Dortmund dan Real Madrid. Selanjutnya bintang lainnya lahir seperti Gianluigi Buffin, David Trezeguet, Pavel Nedeved dan Lilian Thuram yang berhasil membantu merebut scudetto pada musim 2001.2002 dan 2002/2003.

Skandal Calciopoli

Pada tahun 2004 pelatih Juventus adalah Fabio Capello dan berhasil memperoleh dua gelar Serie A. Namun pada Mei 2006 Juventus menjadi salah satu dari 5 klub Serie A terkait dengan skandal pengaturan skor pertandingan yang mengakibatkan klub kena hukuman terdegradasi ke Serie B untuk pertama kalinya dalam sejarah. Klub ini juga dilucuti dua gelar yang dibawa Capello pada tahun 2005 dan 2006. Pada saat kejadian tersebut banyak pemain utama meninggalkan klub seperti Thuram, Ibrahimovic dan Cannavaro. Tetapi beberapa pemain yang loyal masih tetap bersama Juventus seperti Buffon, del Piero, Trezeguet dan Nedved mengikuti kompetisi Serie B dan menjuarai liga dan dipromosikan kembali ke Serie A setelah musim 2006/2007.


Prestasi Juventus

Lega Calcio Serie A

Juara (32 kali)
1905, 1925/1926, 1930/1931, 1931/1932, 1932/1933, 1933/1934, 1934/1935, 1949/1950, 1951/1952, 1957/1958, 1959/1960, 1966/1967, 1971/1972, 1972/1973, 1974/1975, 1976/1977, 1977/1978, 1980/1981, 1981/1982, 1983/1984, 1985/1986, 1994/1995, 1996/1997, 1997/1998, 2001/2002, 2002/2003, 2011/2012, 2012/2013, 2013/2014, 2014/2015, 2015/2016

Runner Up (20 kali)
1903, 1904, 1906, 1937/1938, 1945/1946, 1946/1947, 1952/1953, 1953/1954, 1962/1963, 1973/1974, 1974/1975, 1979/1980, 1982/1983, 1986/1987, 1991/1992, 1993/1994, 1995/1996, 1999/2000, 2000/2001, 2008/2009

Lega Calcio Serie B
Juara (1 kali) : 2006/2007.

Piala Italia
Juara (11 kali)
1937/1938, 1941/1942, 1958/1959, 1959/1960, 1964/1965, 1978/1979, 1982/1983, 1989/1990, 1994/1995, 2014/2015, 2015/2016.

Runner Up (5 kali)
1972/1973, 1991/1992, 2001/2002, 2003/2004, 2011/2012

Piala Super Italia
Juara (7 kali)
1995, 1997, 2002, 2003, 2012, 2013, 2015

Runner Up (5 kali)
1990, 1998, 2005, 2014, 2016

Piala Kremlin
Juara (2 kali) : 1954, 1958

Liga Champions Eropa
Juara (2 kali) : 1984/1985, 1995/1996

Runner Up (6 kali) : 1972/1973, 1982/1983, 1996/1997, 1997/1998, 2002/2003, 2014/2015

Piala Winners UEFA
Juara (1 kali) : 1983/1984

Piala UEFA/Liga Europa
Juara (3 kali) : 1976/1977, 1989/1990, 1992/1993
Runner Up (1 kali) : 1994/1995

Piala Intertoto
Juara (1 kali) : 1999/2000

Piala Super UEFA
Juara (2 kali) : 1984, 1996


Piala Interkontinental
Juara (2 kali) : 1985, 1996
Runner Up (1 kali) : 1973

Juventini, sebutan untuk tifosi Juventus tentu tahu masih banyak prestasi yang ditorehkan oleh Le Zebre baik di dalam maupun di luar lapangan. Klub ini telah banyak menyumbangkan pemain untuk tim nasional Italia baik yang di junior maupun senior. Di luar lapangan, Juventus juga menunjukkan komitmennya terhadap segala masalah kemanusiaan dan sosial. Komitmen dan proyek-proyek yang didukung penuh oleh klub telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kebijakan dalam mewujudkan sebuah nilai dan idealisme yang selalu dipegang teguh oleh Juventus. Dalam beberapa tahun terakhir komitmen sosial Juventus berhasil mencapai beberapa area dan upaya tersebut telah melahirkan penghargaan yang dikenal dengan Scudetto della Solidarieta yang merupakan sebuah penghargaan yang diberikan oleh majalah Vita seperti misalnya : Proyek Growing Together at The Sant'Anna dengan tujuan untuk meningkatkan nilai pendanaan bagi proyek perbaikan ruang perawatan bayi yang baru lahir di rumah sakit Sant'Anna. Di samping itu ada pula proyek pembangunan Asylum untuk mengenang Edoardo Agnelli bekerja sama dengan Vicenza Voluntary Groups bertujuan untuk memberikan tempat penampungan bagi kaum ibu yang berada dalam kesulitan.

Well, Bro dan Sis demikianlah sejarah dan prestasi Juventus, La Vecchia Signora. Drive Ball mengucapkan terima kasih telah membaca artikel ini, semoga ada manfaatnya. Sebagai akhir kata  saya ucapkan Bravo, La Vecchia Signora, auguri per tutti scudetti!

Salam The Art of Soccer!